"Makakala para waktunya terjadi transisi dalam kehidupan Libya seperti perkiraan banyak pihak, maka hendaknya masa depan Libya benar-benar ditentukan sendiri oleh bangsa Libya dengan melibatkan semua komponen di masyarakat Libya," tutur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Hal tersebut dikatakannya di Pusdiklat Infanteri TNI AD, Cipatat, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (23/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga masa depan Libya sesuai dengan keinginan rakyat Libya," sarannya.
SBY berharap Libya bisa kembali pulih dan berperan kembali dalam perekonomian global. Akibat perang ini produksi minyak di Libya turun dan memperngaruhi harga minyak dunia.
"Sebelum konflik terjadi, Libya ada di 12 penghasil minyak dunia. Tiap hari memproduksi 1,6 juta barrel minyak mentah. Setelah terjadi konlfik turun 90 persen, hanya 100 ribu per barrel per hari," ungkap SBY.
(gah/mad)











































