Ketika Mudik di Jalur Laut Tak Mengenal Macet & Murah

Ketika Mudik di Jalur Laut Tak Mengenal Macet & Murah

- detikNews
Selasa, 23 Agu 2011 16:48 WIB
 Ketika Mudik di Jalur Laut Tak Mengenal Macet & Murah
Jakarta - Air laut di Perkampungan Nelayan Cilincing (PNC) berwarna hitam pekat dan dipenuhi dengan bermacam-macam sampah. Jika dilihat dari Jembatan Marunda, deretan perahu nelayan berjejer rapi di tepi bantaran kali Cakung Drain yang mengalir di bawah jembatan itu.

"Maaf saya tidak berpuasa," kata Katarman (55) sambil menghisap sebatang rokok di Perkampungan Nelayan Cilincing di Jakarta Utara, Selasa (23/8/2011).

Wajah Katarman menggambarkan usianya yang cukup baya dengan kumis hitam dan topi rimba berwarna hitam yang menempel dikepalanya. Sambil duduk di atas sebuah kursi kayu, dia mensyukuri angin yang berhembus saat itu.

"Ini adalah angin timur jadi kemungkinan untuk hujan kecil dan perahu dapat melaju dengan tenang," kata pria asal Indramayu, Jawa Barat ini.

Bukan tanpa alasan Katarman mensyukuri musim timur tahun ini, karena 4 hari lagi, dirinya bersama keluarga dan temannya akan mengarungi Laut Jawa menuju kampung halamannya di Indramayu untuk berlebaran. Perahu Katarman sendiri terpakir tepat di hadapannya dengan warna hijau, kayu kayu yang terpaku dengan papan itu tertambat dengan tali.

"Panjangnya enamnya meter. Tahun lalu saya juga berlebaran dengan menggunakan perahu ini. Kami 10 orang waktu itu," terangnya.

Ongkos mudik ke kampung halaman menjadi faktor utama alasan Katarman pulang ke kampungnya melewati jalur laut. Sambil berhitung, setiap orang akan mengeluarkan ongkos Rp 140 ribu untuk pulang pergi ke Indramayu. Meski perjalanan ke Indramayu memakan waktu sekitar 14 jam.

"Kalau 10 orang, maka jumlahnya besar. Dengan kapal, 10 orang cukup dengan membeli solar sebanyak 70 liter dan makanan disiapkan dari rumah," ujarnya.

Sambil tertawa, Katarman kemudian mengatakan bahwa di laut tidak mengenal kemacetan di jalan. "Kalau di laut kita hindari macet mesin dan angin kencang," katanya.

Konvoi Perahu

Perjalan jauh dengan menggunakan perahu sebaiknya tidak dilakukan sendirian. Begitu pesan katarman. Hal itu diamani oleh temannya dari daerah yang sama, Darman (49). Tahun lalu, konvoi perahu untuk pulang kampung diikuti oleh lima perahu.

"Konvoi lebih menguntungkan karena bisa saling membantu dan tidak tersasar di luat nanti," ujar Darman.

Sebuah kapal, lanjut Darsam, dapat mengangkut beban penuh sebanyak 500 kilogram. Keberangkatan perahu sebaiknya dilakukan pada malam hari karena pada saat itu, dapat terligat obor-obor kilang minyak yang berdiri di tengah laut yang digunakan nelayan sebagai penunjuk arah.

"Jangan belok, tetap ikutin saja petunjuknya sambil menggunakan kompas. Kita menggunakan mesin berkekuatan 10 hingga 15 PK," jelasnya.

Nelayan lainnya, Suripto (37), mengaku melakukan perjalanan dengan perahu dilakukannya sejak 5 tahun terakhir. Satu hal yang membuat Suripto bersyukur, dirinya tidak perlu berdesak-desakan seperti layaknya di terminal penumpang untuk mengejar mobil angkutan.

"Semoga perjalanan tahun ini aman dan selamat sampai rumah kembali," pintanya.

(fiq/irw)


Berita Terkait