"Baru akan dikremasi besok pagi sekitar pukul 9 pagi,β ujar Parman, paman Livia, di Rumah Duka Yayasan Jabar Agung, Jl Tubagus Angke, Jakarta Barat, Selasa (23/8/2011).
Parman yang tinggal di Medan kaget mendengar kemalangan yang menimpa Livia. Parman tidak menyangka keponakannya yang baru berusia 21 tahun itu tewas dengan cara yang tidak wajar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang sore, belasan teman Livia dari kampus Binus datang melayat. Sebagian besar dari mereka mengenakan baju hitam dan raut muka sendu.
Namun rekan-rekan Livia tidak bersedia berkomentar. "Tanya jurusan saja ya," ujar salah seorang mahasiswi rekan Livia kepada wartawan yang mencoba mewawancarainya.
Livia dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak 16 Agustus lalu. Komunikasi terakhir dengan ibundanya, Livia mengabarkan telah lulus ujian di kampusnya. Ibunya sempat mengatakan akan menjemput Livia di kosnya di daerah Rawasari, Jakarta, pada 17 Agustus.
Namun saat ibunya tiba di kos tersebut, kamar Livia ternyata kosong. Livia tidak ditemui di kosnya. Dengan kunci duplikat, ibunya masuk ke kamar tersebut dan mendapati kamar Livia masih tertata rapi dan tak ada pesan apa pun.
Hingga akhirnya keluarga menerima kabar tentang adanya jenazah perempuan yang memiliki ciri-ciri seperti Livia, yaitu mengenakan kemeja putih dan rok pendek hitam. Dari kalung dan giwang yang masih melekat di jenazah tersebut, akhirnya keluarga yakin bahwa itu memang Livia.
Polisi masih mendalami kasus pembunuhan gadis itu. Diduga, gadis berusia 21 tahun itu tewas karena dibekap. Ada dugaan juga, Livia diperkosa karena celananya melorot. Sejumlah saksi terus diperiksa untuk memburu pelakunya.
(ken/nrl)











































