Bila Khadafi Jatuh, Libya Terancam Perang Saudara

Bila Khadafi Jatuh, Libya Terancam Perang Saudara

- detikNews
Selasa, 23 Agu 2011 15:30 WIB
Bila Khadafi Jatuh, Libya Terancam Perang Saudara
Jakarta - Pemimpin Libya Muammar Khadafi tampaknya tinggal menunggu waktu untuk 'dijatuhkan'. Jika Khadafi jatuh dan para oposisi tidak siap, maka Libya terancam jatuh dalam konflik sektarian dan perang saudara.

"Sudah sangat lama Libya di bawah pengaruh Khadafi. Kaum oposisi banyak bermunculan dari bermacam kelompok. Belum diketahui sejauh mana mereka mampu mempersatukan diri membentuk pemerintahan. Mereka belum ada pengalaman, terutama di kalangan aktivis-aktivis sosial maupun non-pemerintah, jadi sebenarnya mereka masih terpengaruh oleh kekuatan faksi-faksi," ujar Koordinator Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (23/8/2011).

Yon mempertanyakan apakah faksi-faksi tersebut bisa bersatu pasca Khadafi jatuh? Bila NATO masih bisa memegang kendali dan mengarahkan sampai masa transisi, keadaan bisa menjadi lebih baik kendati efeknya Libya akan sangat tergantung pada Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau (Libya) dibiarkan, dikhawatirkan akan terjadi ketidakstabilan setelah itu, baik perpecahan internal di kubu pemerintah maupun orang-orang yang masih mendukung Khadafi," imbuh Yon.

Selain itu, kejatuhan Khadafi juga untuk 'membungkam' Libya agar tidak terlalu keras terhadap negara-negara Barat. Dan secara otomatis Libya diharapkan bisa lebih pro pada kebijakan-kebijakan Barat.

Barat, papar Yon, selain mendapat keuntungan keamanan di Timur Tengah pasca Khadafi jatuh, juga minyak.

"Pertama dalam hal keamanan, security di Timur Tengah. Selama ini Libya sebagai salah satu ancaman terhadap dunia Barat, Amerika dan sebagainya. Yang dalam posisi ekonomi itu juga berkaitan dengan kepentingan, sebenarnya lebih kepada Eropa, untuk penguasaan potensi minyak. Minyak yang ada di Libya itu untuk menjamin distribusi minyak ke Eropa," papar Yon.

Masalah minyak ini, lanjut dia, adalah salah satu alasan utama di balik peristiwa yang ada di Timur Tengah. "Sekarang ini Libya mensuplai Eropa, kalau AS belum lihat. Tapi kan tidak tahu setelah itu ada keinginan untuk ikut andil dalam masalah-masalah minyak itu sendiri," jelas Yon.

(nwk/irw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads