Rieke: Moratorium TKI ke Saudi Dicabut 12 September

Rieke: Moratorium TKI ke Saudi Dicabut 12 September

- detikNews
Selasa, 23 Agu 2011 12:06 WIB
 Rieke: Moratorium TKI ke Saudi Dicabut 12 September
Jakarta - Pemerintah Indonesia menghentikan sementara pengiriman (moratorium) TKI ke Arab Saudi mulai 1 Agustus 2011 lalu. Anggota Komisi IX DPR Rieke Dyah Pitaloka mendapat kabar moratorium TKI akan dicabut pada 12 September.

"Saya dapat kabar dari orang Indonesia yang ada di Arab Saudi yakni sumber saya bahwa tanggal 12 September nanti moratorium akan dicabut," ujar Rieke di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (23/8/2011).

Menurut politisi PDIP, moratorium TKI ke Arab Saudi tidak mengurangi pengiriman TKI ke Arab Saudi. Nyatanya, lanjut Rieke, hingga kini pengiriman TKI masih terus mengalir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang ini masih banyak yang pergi ke Arab Saudi. Jadi moratorium itu untuk

apa? Apakah untuk sekadar pencitraan politik saja," cetus pemeran 'Oneng' dalam sinetron Bajaj Bajuri ini.

Rieke menambahkan, pemerintah selama ini tidak jelas mau membawa ke mana moratorium TKI ke Arab Saudi. Komisi IX DPR sudah pernah meminta pemerintah memperhatikan itu.

"Seharusnya dilihat cara penyelesaiannya seperti apa. Law enforcement-nya harus jelas, mekanisme pengirimannya seperti apa. Kalau tidak ya kondisinya akan seperti ini terus, moratorium akan tidak akan berhasil dan malah akan mengakibatkan para tenaga kerja kita sengsara," terangnya.

Rieke menuturkan, pada moratorium dengan Malaysia pada 2010 lalu, juga merugikan Indonesia karena ada 28 ribu human trafficking setelah terjadinya moratorium. Bahkan ada 10 ribu pekerja baru selama masa moratorium.

Rieke lalu menyarankan pemecahan masalah dengan memperbaiki RUU TKI dan mendesak pemerintah meratifikasi konvensi PBB tahun 1990 tentang Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya serta ILO pasal 189 tentang Perlindungan Rumah Tangga dan ddiimplementasikan ke dalam konstitusi.

Moratorium TKI ke Arab Saudi dilakukan menyusul ada beberapa TKI yang mendapat perlakuan buruk di Saudi, termasuk pemancungan Ruyati karena membunuh majikan. Namun Arab Saudi lebih dulu menghentikan penerbitan visa bagi pekerja rumah tangga dari RI dan Filipina, dengan alasan syarat-syarat yang disampaikan oleh negeri pemasok tidak cocok dengan budaya masyarakat Saudi.

(nik/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads