Selain kalung, ciri lainnya ikut memperkuat dugaan bahwa jenazah yang ditemukan warga Cisauk, Tangerang, Minggu (21/8), malam, adalah Livia, yaitu kemeja warna putih dan rok hitam. Sementara, tubuh jenazah yang ditemukan penggembala kambing di selokan sedalam 2 meter itu tidak bisa diidentifikasi lagi.
"Warna kulit saya kurang jelas karena badannya sudah membengkak. Rambutnya sebahu. Saat ditemukan, mayatnya tanpa identitas," jelas Kapolsek Cisauk, AKP Kemijo, saat dihubungi detikcom, Minggu (21/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayah Livia memang langsung pergi ke RSUD Tangerang setelah mendengar berita tentang penemuan mayat di Cisauk. Ibunda mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) itu, Yusni Chandra (51), langsung jatuh sakit begitu mendengar bahwa jenazah mempunyai ciri-ciri sama dengan Livia, anak semata wayangnya.
"Ibunya lagi di kamar, sakit karena dengar kabar itu," kata Ita, tante Livia.
Sejak mengunjungi kos Livia di Rawasari, Jakarta Barat, Rabu (17/8/2011), lalu, Yusni mulai dilanda kebingungan tentang nasib anaknya. Bermaksud akan memberikan ucapan selamat atas selesainya ujian Livia, Yusni justru mendapati kos dalam keadaan kosong. Di kamar terlihat beberapa baju yang tertata rapi.
"Jadi Selasa, tanggal 16 Agustus, saya terakhir bertemu sama dia. Setelah itu, malamnya dia hubungi saya dan bilang kalau sudah lulus ujian akhir dan akan lulus S1. Saya bilang akan ke sana (kos) besok," ucap Yusni, Jumat (19/8), lalu.
Yusni mengaku sempat menghubungi beberapa teman dekat Livia dan pihak Binus untuk menanyakan keberadaan Livia, namun hasilnya nihil. Ponsel Livia juga tidak bisa dihubungi. Yusni tidak percaya anaknya dibawa kabur oleh pacar. Selain sudah akrab dengan keluarga, sang pacar juga mencari-cari ke mana Livia pergi.
"Kalau pacar pasti ada tapi nggak mungkin karena dia sudah akrab sama keluarga kita juga," ucap Yusni.
Di tengah kegundahannya itu, Yusni melapor ke Polsek Kebon Jeruk. Polisi pun langsung melakukan penyelidikan. Dari CCTV kos Livia terlihat gadis malang itu pergi pada hari yang sama saat ia menghubungi ibunya. Saat keluar dari kos, Livia mengenakan seragam kampus dan membawa buku.
Selain melapor kepada polisi, Yusni juga meminta pertolongan 'orang pintar'. Menurut 'orang pintar' yang didatanginya, Livia dibawa oleh seorang perempuan. Diduga, perempuan yang membawa pergi Livia itu merasa iri dengan kesuksesan Livia.
"Livia kan nilainya bagus di kampus, dia juga dapat pekerjaan sebelum skripsi. Jadi mungkin memang banyak yang iri," ungkap Yusni.
Namun, di tengah penantian kabar baik dari kasus hilangnya Livia itu, keluarga justru mendengar berita buruk tentang penemuan mayat di Tangerang. Memang belum dipastikan apakah mayat tersebut benar Livia, namun ciri-cirinya sangat cocok.
Polisi menduga, korban tewas sejak 3-4 hari lalu. Namun, belum dapat dipastikan apakah korban meninggal karena dibunuh. Polsek Cisauk yang melakukan penyelidikan tidak mendapati bekas luka benda tumpul atau sejenisnya di mayat wanita itu. Kondisi jenazah sangat sulit untuk dikenali.
"Saya tidak bisa melihatnya. Itu nanti keterangan dari dokter. Karena mayatnya tidak bisa diidentifikasi saat ditemukan. Sudah bau," ungkapnya.
(irw/asy)










































