"Itu bukan Nazaruddin yang nulis. Itu yang membuat pengacaranya atau anggota DPR dari Banggar atau dari keluarganya. Dari segi politik itu bodoh, dari segi hukum juga bodoh. Tidak mungkin hukum di deal," kata Mubarok,
Hal ini disampaikan Mubarok kepada detikcom, Senin (22/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Surat itu kan olok-olok kepada Presiden SBY dan bahkan kepada PD. Karena olok-olok maka segera dijawab normatif, tidak ada yang baru, supaya jangan diolok-olok terus," ujar Mubarok.
Mubarok menuturkan sejak awal Presiden SBY memang sudah mendorong pengusutan kasus suap Kemenpora yang melibatkan Nazaruddin hingga tuntas. Maka dari itu ia menilai tidak ada yang baru dalam surat balasan Presiden SBY kepada Nazaruddin.
"Presiden dan PD justru berkepentingan terbuka. Yang takut itu yang belum disebut namanya, kalau yang sudah disebut ya tidak takut, silahkan dibuktikan," tandasnya.
Minggu (21/8/2011) kemarin, Presiden resmi mengirimkan surat balasan kepada Nazaruddin. Surat itu dikirimkan oleh
seorang kurir langsung ke Rutan Mako Brimob, tempat Nazaruddin ditahan.
Dalam surat tersebut Presiden kembali menegaskan tidak akan mencampuri kasus ini. Terkait anak dan istri Nazaruddin, menurut SBY, adalah sudah menjadi tanggung jawab aparatur negara untuk menjamin ketenangan, kenyamanan dan keamanan seluruh warga negara. SBY juga mempersilakan Nazaruddin mengungkap segala hal yang diketahuinya di depan KPK.
(van/ndr)











































