Kemarin, Minggu (21/8/2011), Presiden resmi mengirimkan surat balasan kepada Nazaruddin. Surat itu dikirimkan oleh seorang kurir langsung ke Rutan Mako Brimob, tempat Nazaruddin ditahan.
Isi surat tersebut tidak mengejutkan. Seperti sikap Presiden sebelumnya, Presiden meminta Nazaruddin untuk mengikuti proses hukum yang akan dia lalui. SBY mengaku sudah membaca surat kiriman Nazaruddin dan meminta agar Nazaruddin kooperatif menjalani pemeriksaan di KPK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jawaban Presiden ini dibacakan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, Penegakan HAM, dan Pemberantasan Korupsi, Denny Indrayana dalam sebuah konferensi pers di gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan kemarin. Saat buka puasa bersama jajaran pengurus Partai Demokrat di kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat kemarin, Presiden juga sempat membacakan suratnya itu, sesaat sebelum adzan maghrib.
Sebenarnya, Presiden juga sempat bimbang sebelum mengirimkan surat ini kepada Nazar. Dikhawatirkan, akan terjadi kontroversi. Namun karena surat Nazaruddin sudah menjadi menjadi perbincangan publik dan dikhawatirkan malah justru menjadi 'bola liar', maka akhirnya Presiden menjawab surat Nazaruddin.
"Sebetulnya Presiden mempertimbangkan (akan ada kritikan atas surat jawaban Presiden). Namun karena mengingat surat tersebut jadi kontroversi di ruang publik dan diinterpretasikan macam-macam, agar masyarakat mengetahui duduk persoalannya, maka kemudian Presiden memutuskan untuk menjawab surat tersebut," kata Juru Bicara Presiden Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha saat dihubungi detikcom, Minggu (22/8/2011) malam.
Mengetahui suratnya dibalas Presiden, Nazaruddin merasa senang. Dia merasa Presiden menghargai usahanya itu.
"Pak Nazar bilang, menghormati Presiden karena membalas suratnya. Beliau senang ada tanggapan," kata salah satu pengacara Nazaruddin Dhea Tungga Esti saat dihubungi detikcom tadi malam.
Namun menurut Dhea, Nazaruddin belum menanggapi materi surat yang dikirimkan oleh Presiden. "Mengenai materi surat, beliau (Nazaruddin) belum menanggapi," ujarnya.
Dalam suratnya, Nazaruddin meminta kepada Presiden SBY agar segera memberikan hukuman penjara kepadanya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-haknya. Nazaruddin rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Presiden berjanji akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi keluarganya, khususnya bagi istri dan anak-anaknya.
"Perlu saya jelaskan bahwa istri saya adalah benar-benar seorang ibu rumah tangga yang sama sekali tidak mengetahui apa pun yang berhubungan dengan kepartaian. Saya juga berjanji, saya tidak akan menceritakan apa pun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK demi kelangsungan bangsa ini," demikian cuplikan surat Nazaruddin.
(anw/fiq)











































