Pria yang akrab disapa Kang Sabar itu kembali bangkit. Ia meraih tongkat kanannya yang terlepas. Dengan hanya satu kaki, Sabar kembali mendaki puncak Elbrus yang berselimut salju. Angin gunung bertiup kencang. Suhu udara minus 15 derajat celcius.
2 Sampai 3 meter berjalan, Sabar terjatuh lagi. Namun, tanpa harus dibantu pendaki lainnya, ia pun meneruskan langkah. Selain tongkat, tangah kirinya tampak memegang bendera Merah Putih. Tak lama kemudian, tibalah Sabar di Puncak Elbrus dengan selamat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti terlihat dari video pendakian yang diunggah di Youtube oleh Tim Ekpedisi Merdeka, Sabtu (20/8/2011), Sabar langsung berteriak lepas begitu menginjakkan kaki di puncak Elbrus. Bendera merah putih tampak berkibar-kibar di tangannya.
Pendaki tuna daksa asal Solo, Jawa Tengah, itu pun berpelukan dengan 2 pendaki Rusia yang memandunya selama 4 hari pendakian. Tampak Ketua Tim Ekpedisi Merdeka Budi Cahyono juga memeluk Sabar. Begitu pula dengan pendaki lainnya dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang juga mendaki Elbrus namun berbeda tim.
Tidak banyak kata yang diucapkan Sabar saat berada di Puncak Elbrus selama kurang lebih 5 menit. Dalam balutan jaket tebal, sarung tangan, dan kacamata yang tetap terpakai, Sabar merebahkan diri di atas Salju. Lalu, pria yang kehilangan seluruh kaki kanannya dalam kecelakaan kereta api di tahun 1996 itu melakukan salat dua rakaat.
"Sik tak salat sik (Sebentar, aku salat dulu)," kata Sabar dalam video yang berdurasi sekitar 4 menit tersebut.
Teguh Santosa selaku promotor Tim Ekspedisi Merdeka menyatakan senang Sabar yang seorang penderita cacat fisik berhasil menaklukkan Elbrus. Meski sempat tertunda, akhirnya Sabar dapat mewujudkan tekadnya mendaki gunung tertinggi di Eropa itu.
"Saya melihat Sabar ini perlu didukung karena keinginannya sangat kuat. Saya sendiri sempat menemani sampai ketinggian 2.500 mdpl. Lalu kita kembali memantau dari Moskow, karena jaringan komunikasi ke puncak lebih bagus dari sini," kata Teguh saat dihubungi detikcom.
Menurut Teguh, saat ini Sabar telah berada di KBRI Moskow. Sabar telah bercakap-cakap dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 18 Agustus lalu. Teleconference itu sempat tertunda dua kali karena faktor cuaca yang buruk. Tanggal 16 terjadi badai di Elbrus sehingga komunikasi tidak bisa dilakukan.
Saat Sabar mencapai puncak, teleconference kembali akan dilakukan, namun gagal. "Waktu teleconference, Sabar sudah turun ke ketinggian 2.500 mdpl lagi. Jadi komunikasi bisa berjalan normal. Ngomongnya juga jelas," ucap Teguh, yang juga masih berada di Moskow.
(irw/fjr)










































