Jika SBY Tanggapi Surat Nazaruddin, PD Kian Tersandera

Jika SBY Tanggapi Surat Nazaruddin, PD Kian Tersandera

- detikNews
Sabtu, 20 Agu 2011 02:13 WIB
Jika SBY Tanggapi Surat Nazaruddin, PD Kian Tersandera
Jakarta - Politikus PKS menyarankan Presiden SBY untuk mengabaikan tawaran 'damai' Nazaruddin. Karena apabila SBY malah menerima tawaran dalam surat Nazaruddin, adalah kerugian besar bagi PD.

"Kekhawatiran banyak pihak mulai terbukti. Kalau menurut saya kalau Nazaruddin minta sesuatu kepada Pak SBY dengan konsekuensi akan tutup mulut dan itu diterima Pak SBY, maka itu kerugian besar bagi PD,"ujar Wasekjen PKS, Mahfudz Siddik.

Hal ini disampaikan Mahfudz kepada detikcom, Sabtu (20/8/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan merespon Nazaruddin yang menawarkan tutup mulut di depan KPK, sama saja dengan membiarkan partai ini disandera. Karena selama ini Nazaruddin sudah menuding sejumlah elit PD ikut bermain dengannya dalam kasus suap Kemenpora dan kasus lain.

"Kalau Nazaruddin terkesan sebagai pahlawan yang melindungi partai, PD makin dirugikan. Dua bulan sudah babak belur. Untuk membantah fitnah itu hanya bisa dibuktikan dengan proses hukum,"papar Ketua Komisi I DPR ini.

Memang menerima tawaran Nazaruddin bisa menguntungkan sejumlah elit PD, apalagi jika Nazaruddin punya bukti atas tudingannya. Tapi tetap saja merugikan citra PD yang kian merosot.

"Menyelamatkan orang per orang bisa tapi sebagai institusi Demokrat rugi. Cara demokrat recovery dari semua omongan Nazaruddin dibuktikan saja di KPK," tandasnya.

Sebelumnya Seskab Dipo Alam menegaskan bahwa Presiden SBY tidak akan menanggapi surat dari mantan bendahara umum PD Muhammad Nazaruddin. Menurutnya surat Nazaruddin harusnya tak ditujukan kepada Presiden SBY.

"Saya yakin bahwa Presiden tidak akan menanggapi surat itu, karena Nazaruddin sudah dalam proses hukum oleh KPK, baik ketika ia buron, dan kini ketika ia di penjara. Jadi jelas surat itu bukan urusan Presiden, silakan para politisi dan pengamat berandai dan menyoal sepuasnya," tegas Dipo Alam, kepada wartawan, Jumat (19/8/2011).



(van/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads