"Kami memperbandingkan koleksi yang saat ini dengan inventarisasi yang disusun oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) pada tahun 1992. Dari situ, kami ketahui ada enam buah wayang sudah tidak ada lagi. Sedangkan delapan wayang lainnya, kami simpulkan palsu," kata Juru Bicara Tim Inventarisasi, BRM Bambang Irawan, di Solo, Jumat (19/8/2011).
Kasus dugaan pemalsuan itu semula dilontarkan empat dalang di Solo setelah memeriksa langsung koleksi wayang kulit peninggalan Paku Buwono X tersebut. Pihak pengelola museum yaitu Komite Museum Radya Pustaka juga sudah melaporkan kepada polisi tentang adanya informasi dugaan pemalsuan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang Irawan mengatakan dari 481 buah wayang yang dikoleksi Radya Pustaka, enam wayang diketahui telah tidak tersimpan di dalam museum dan tidak diketahui keberadaannya. Keenam wayang itu adalah kategori wayang purwa dan wayang gedhog.
"Lima wayang merupakan peninggalan jaman pemerintahan Paku Buwono X, sedangkan satu wayang merupakan wayang baru hasil sebuah lomba tatah sungging. Kesemuanya Wayang yang hilang merupakan wayang-wayang dengan mutu garapan sangat bagus. Nilai seninya sangat tinggi," kata Bambang.
Delapan wayang yang dipalsukan diketahui dari ada beberapa anak wayang yang berbeda wujud dengan yang ada dalam daftar yang dibuat UNS. Selain itu, setelah dicermati oleh tim diketahui delapan wayang itu merupakan buatan baru.
"Kami membandingkan koleksi itu dengan wayang yang di Kraton Surakarta. Kami menggunakan 44 parameter dalam perbandingan. Hasilnya memang memang tidak identik. Kami menilai delapan wayang itu telah dipalsukan," lanjut Bambang.
(mbr/aan)











































