"Terbukti Nazaruddin tidak punya itikad baik terhadap kasus ini, ini semakin menguatkan kita, justru membuat kita jangan-jangan apa yang disampaikan sebelumnya hanya omong kosong saja dan memang Nazaruddin sendiri tidak berkeinginan untuk membuka kasus ini," ujar peneliti ICW, Febridiansyah di Gedung KPK Jl Rasuna Said, Jakarta, Kamis (18/8/2011).
Kedua, lanjut Febri, KPK tidak boleh bergantung pada pernyataan Nazaruddin. KPK harus mencari bukti lain yang bisa menjerat aktor lain yang berperan dalam kasus Nazaruddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab Nazaruddin tiba-tiba lupa dan mengirim surat kepada SBY menurut Febri adalah sebagai sebuah manuver yang dilakukan mantan anggota komisi III DPR ini. Pertama, tuduhannya selama ini tidak benar alias omong kosong saja. Kedua, dia tidak punya itikad untuk membongkar semua kasusnya.
"Ketiga kemungkinan bahwa banyak kepentingan yang sedang mengepung Nazaruddin, kenapa saya bilang banyak kepentingan, karena kasusnya bisa kemana-mana. Ada mafia anggaran, partai politik, ada kekuatan yang sangat besar, jadi kalau ada tekanan, berasal dari aktor yang sulit diungkap dalam kasus ini," ungkapnya.
Kecenderungan dari ketiga faktor ini?
"Ketiganya punya porsi yang sama, karena kalau Nazaruddin berniat membuka, buka dong, jangan banyak alasan, jangan banyak wacana. Apa lagi kalau minta dipindahkan kesini-kesana, kalau mau bongkar bongkar saja, kalau punya bukti, buka buktinya jangan membuat kebingungan di publik," tegasnya.
(mpr/rdf)










































