Pengamatan detikcom, Kamis (18/8/2011), 20 orang menawarkan jasa penukaran uang dan membuka lapaknya berjejer mulai dari Jalan Bekasi Raya, tepatnya depan Polsek Cakung, Jakarta Timur, hingga Jalan Ujung Menteng yang mengarah ke Terminal Pulo Gadung.
Tidak perlu meja besar atau tenda payung untuk membuka lapak. Pedagang biasanya menyimpan uang yang dibawa di kursi plastik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekerjaan penukaran uang receh ini salah satunya dilakoni oleh M Simanjuntak (31). Ia terpaksa membanting tulang menjadi pereceh (panggilan bagi penukar uang) sejak 3 tahun lalu sejak sang suami mengalami kecelakaan dan cacat permanen.
Tidak ada keahlian lain dari perempuan jebolan SMA ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kalau mau Lebaran saya mangkal di sini (Jl Raya Bekasi)," kata Simanjuntak.
Uang yang ditawarkan adalah lembaran seribuan, dua ribuan, lima ribuan, dan sepuluh ribuan. Uang-uang itu dibalut rapi dengan bandrol nominal dan bertumpuk sesuai nomor seri tiap lembar duit.
Meski recehan, jumlah uang yang dibawanya dalam sekali membuka lapak berkisar mencapai Rp 20 juta. "Paling sehari yang ketukar Rp 5-7 juta," ujarnya.
Simanjuntak mendapat untung dari setiap uang yang ditukarkan konsumen. Dia mencontohkan, dalam setiap transaksi Rp 100 ribu bisa mengantongi keuntungan Rp 5 ribu.
"Kalau lagi hoki keuntungan bisa mencapai Rp 10 ribu dalam setiap transaksi senilai Rp 100 ribu. Kalau ditotal keuntungan untuk keperluan receh Lebaran saja bisa sampai Rp 10 juta," tutur dia yang menolak menyebut besaran modal awal usaha yang dilakoninya.
Keuntungan sebesar itu tentunya hanya didapat di masa-masa menjelang Lebaran. "Kalau hari biasa cukup buat kontrakan sama makan saja," ujarnya.
Mangkal di pinggir jalan dengan membawa gepokan uang tentu membuat pedagang uang receh was-was dengan aksi kriminalitas.
"Lagaknya nanya-nanya saja. Nggak sadar saya sudah kasih uang Rp 3 juta. Sementara yang saya terima cuma sejuta," cerita Simanjuntak yang pernah menjadi korban hipnotis ini.
Pengalaman pahit juga dialami Andre Sitinjak. Ia kehilangan Rp 500 ribu pada Lebaran tahun 2010.
"Ada orang iseng yang menyisipkan selembar uang palsu di antara gepokan uang yang akan ditukarkan. Sekarang sudah tahu caranya biar tidak kejadian seperti tahun lalu. Uang yang akan ditukar tidak akan saya berikan dulu sampai saya memeriksa uang dari konsumen," kata Andre.
(aan/fay)










































