6 Orang yang Ditangkap di Sukoharjo Pelaku Bom Kantor PBB

6 Orang yang Ditangkap di Sukoharjo Pelaku Bom Kantor PBB

- detikNews
Kamis, 01 Jul 2004 04:10 WIB
Sukoharjo - Enam orang yang ditangkap polisi di Ngadirejo, Kartosuro, Sukoharjo, oleh Mabes Polri disangka sebagai pelaku pemboman di dekat kantor perwakilan PBB, Jl. Wahid Hasyim, Jakarta, beberapa bulan lalu. Hingga kini, belum diketahui kemana polisi membawa keenam orang tersebut.Informasi itu tertuang dalam surat penangkapan yang diberikan Tim 88 Anti-Teror Mabes Polri kepada Kirman Prapto, selaku Ketua RT 02/03 Ngadirejo, Kenteng, Kartosuro, Sukoharjo. Dalam surat penangkapan itu tertulis, mereka harus dibawa ke kantor polisi karena dugaan sebagai pelaku pemboman di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta.Surat penangkapan yang diberikan kepada Kirman tersebut dikeluarkan oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri tertanggal 29 Juni 2004 yang ditandatangani Kadensus 88/Anti-Teror u.b. Kasubden Tindak, Kombes (Pol) Wahyu Indra P. Adapun sebagai pimpinan tim penangkapan disebutkan seorang perwira polisi bernama Kom (Pol) Martinus Hukom.Namun ada yang janggal dalam Surat Penangkapan (SP) yang berjumlah enam itu. Ternyata SP bernomor 262 atau yang lebih lengkapnya tertulis Nopol: SP.Kap/262/VI/2004/Satgas Kum serta Nopol 263 dan 264 hanya tertulis untuk nama Widadi. Sedangkan tiga SP lain bernomor 265, 266 dan 267 hanya tertulis untuk nama Yunus.Padahal, menurut Kirman, yang ditangkap lima orang. Berdasarkan data yang ia miliki, kelima orang yang mengontrak di rumah Sudadi itu adalah Mustakim alias Widi alias Wadi, Yunus, Widadi, Bejo dan Adam. Lagipula menurut keterangan saksi yang dibawa polisi dari rumah tersebut pada Rabu siang berjumlah lebih dari dua orang.Sementara itu, informasi yang diperoleh detikcom menyebutkan, hingga saat ini Sudadi yang merupakan pemilik rumah belum berhasil ditangkap. Saat terjadi penggerebekan ia sedang berada di luar rumah. Informasi itu sama seperti yang disampaikan oleh Daldiri, seorang warga setempat yang mengaku melihat Sudadi keluar rumah pada pagi harinya.Kemungkinan karena Sudadi belum bisa ditangkap inilah maka istrinya, Mar'atusShalikhah (bukan Mar'ah seperti yang dilaporkan sebelumnya-red) dibawa polisi untuk dimintai keterangan perihal aktivitas suaminya maupun orang-orang yang mengontrak di rumahnya. Hingga saat ini, pihak kepolisian juga belum menjelaskan kemana mereka dibawa.Semetara itu, Koordinator Tim Pembela Muslim (TPM), Mahendradatta, yang saat ini berada di Solo mengaku ada pihak yang menghubunginya agar bersedia menjadi pembela keenam orang yang ditangkap tersebut. Namun Mahendra mengatakan dirinya belum bisa bertindak apapun karena belum ada permintaan resmi dari keluarga para tersangka. Oleh karena itu saat ini pihaknya hanya pada posisi sebagai pemantau saja.Ia juga mengaku informasi yang didapatnya mengatakan dalam penangkapan itu polisi menemukan senjata api jenis revolver, 12 amunisi kaliber 38, sebuah samurai, sebuah mata trisula, 5 buah HP milik para tersangka dan sejumlah dokumen. "Benar apa tidak informasi ini, yang tahu adalah polisi. Dimana keberadaan dan bagaimana nasib para tersangka itu juga hanya polisi yang mengetahui," kata dia.Mahendra cuma mengingatkan, bom dekat kantor PBB atau tepatnya di Jalan Wahid Hasyim beberapa waktu lalu, pelakunya diarahkan polisi kepada pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selain itu, dia berharap Mar'atus segera dilepaskan oleh polisi karena tidak mengetahui tindakan apapun yang dilakukan para tersangka."Kalau tidak salah saat itu alasannya adalah model peledakannya mirip dengan bom di gedung DPR. Jadi kalau ada orang yang ditangkap karena diduga terkait pemboman itu maka seharusnya dia adalah orang-orang yang terkait dengan GAM. Selain itu, polisi juga jangan sampai menjadikan seorang istri menjadi sandera karena belum bisa menangkap suaminya," lanjutnya."Yang juga penting bagi kita saat ini adalah polisi telah kembali melakukan model penculikan baru seperti yang mereka lakukan beberapa saat lalu. Ini patut kita sayangkan kenapa hal itu dilakukan lagi. Tindakan itu akan menimbulkan keresahan lagi di masyarakat. Lagipula publik akan segera menghubungkannya motif politiknya karena pilpres yang sudah sangat dekat," papar Mahendra. (ani/)


Berita Terkait