Kisah Penangkapan 7 Pelaku Teror di Sukoharjo
Rabu, 30 Jun 2004 21:50 WIB
Solo -
Polisi menangkap tujuh (bukan enam, seperti diberitakan sebelumnya-Red) pelaku teror di Ngadirejo, Kartosuro, Sukoharjo. Terlibat kasus teror apakah mereka? Sampai sekarang, Polri belum memberikan keterangan resmi. Meski belum ada konfirmasi dari Polri, namun sejumlah saksi di sekitar lokasi penangkapan itu membenarkan mengenai hal itu. Penangkapan bermula, sekitar pukul 11.00 WIB, Rabu (30/6/2004) di sebuah rumah di Ngadirejo, Kartosuro, Sukoharjo. Rumah itu didatangi tidak kurang dari 20 orang yang menggunakan lima mobil. Beberapa saat kemudian tujuh penghuninya dibawa paksa. Selanjutnya rumah itu diberi police line. Satu dari tujuh penghuni adalah perempuan. Warga setempat yang menyaksikan peristiwa itu menuturkan 'para tamu' yang datang itu tidak ada yang mengenakan seragam. Mereka melakukan pengepungan, sedangkan mulut gang menuju ke arah rumah milik Sudadi (37 tahun) itu diblokade dengan mobil yang bernomor polisi H, AB dan B.Semuanya berlangsung cepat. Para tamu langsung berlompatan dari dalam mobil dan langsung merangsek masuk ke rumah Sudadi. Tidak lama setelah itu mereka keluar rumah membawa enam orang penghuninya yang kepalanya sudah ditutup kepalanya dengan balaclava dan langsung dimasukkan ke dalam mobil.Selanjutnya rumah tembok bercat hijau kusam itu dikelilingi police line. Sementara bagian dalam rumah yang tidak terlalu luas itu terlihat berantakan.Warga juga melihat dari dalam rumah di RT 02 RW 03 Kenteng, Kartasura, itu para tamu yang diduga polisi tersebut juga membawa sejumlah bungkusan ukuran panjang serta sejumlah bungkusan lain. "Kami tidak tahu isinya. Tapi yang jelas saat masuk, polisi tidak seragam itu tidak membawa barang-barang itu," kata seorang warga. Selain membawa enam orang laki-laki, Mar'ah isteri Sudadi juga ikut dibawa.Siapakah Sudadi? Sejumlah warga sekitar tidak mengetahui secara siapa pasti. Dia disebut jarang bergaul. Namun, warga seringkali melihat para tamu Sudadi datang malam-malam. Tamu itu jarang sekali terlihat datang lewat pintu depan, tetapi langsung menuju ke pintu belakang. "Tadi pagi saya lihat Sudadi pergi berjalan kaki. Saya ketemu di jalan," kata Daldiri, warga sekitar kepada wartawan di lokasi. Sudadi dikenal sebagai penjual minyak wangi, sementara Mar'ah membuka usaha jahitan. Selain itu Sudadi mengajar di TPA Masjid Al Hidayah, sekitar dua ratus meter dari rumahnya. "Namun dia orangnya sangat tertutup, tidak pernah bergaul seperti warga lainnya," ujar para warga. Orang tua Mar'ah juga kelihatan masih kaget dengan peristiwa itu. Dia tidak banyak memberikan keterangan. "Saya tidak tahu apa-apa, tahu-tahu ada banyak orang datang. Semua yang ada di dalam rumah dibawa, termasuk anak saya," ujar Ibunda Mar'ah yang juga tinggal bersama anak dan menantunya di rumah itu.Mertua Sudadi ini juga mengaku tidak kenal semua penghuni rumah. Mereka adalah orang yang mengontrak di bagian belakang rumah menantunya itu. Yang dia tahu salah satunya sering dipanggil Pak Bejo oleh teman-temannya.Namun para tetangga mengaku tidak kenal lebih jauh dengan Bejo ini. "Setahu saya Bejo kontrak di tempat itu bersama isteri dan ketiga anaknya. Dia sering ikut salat berjamaah di Masjid. Tetapi dia jarang bertegur sapa. Dari mana asalnya maupun kemana anak dan istrinya sekarang saya tidak tahu," papar Daldiri.Belum ada keterangan resmi dari polisi tentang penangkapan itu. Namun sumber detikcom di Mabes Polri membenarkan bahwa hari ini di kampung Ngadirejo tersbut terjadi penangkapan enam orang yang diduga terkait dengan tindak terorisme. Polisi minta waktu dua hari untuk mempublikasikannya ke publik dengan alasan para tersangka masih dimintai untuk mengejar yang lain.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































