Redakan Keresahan Nahdliyin, Rais Aam PBNU Serukan 7 Sikap

Redakan Keresahan Nahdliyin, Rais Aam PBNU Serukan 7 Sikap

- detikNews
Rabu, 30 Jun 2004 18:43 WIB
Rembang - Setelah beberapa saat warga nahdliyin berada dalam kebingungan menjelang pilpres, akhirnya Rais Aam PBNU KH Ahmad Sahal Mahfudz membuat pernyataan juga. Pernyatan itu disampaikan dalam acara "Silaturahim Dengan Rois Aam NU dan Doa Bersama Untuk Indonesia" di Ponpes Hamdalah Kemadu Sulang Rembang, Rabu (30/06/2004).Dihadapan 100-an warga NU dan tamu undangan, Sahal Mahfudz mengatakan saat ini warga NU mendapat cobaan berat. Rakyat termasuk warga NU yang selama ini hanya dijadikan stempel dan tak dapat menentukan pilihan, tiba-tiba hak pilihnya dikembalikan."NU yang cukup lama dipinggirkan dari percaturan kepemilikan negara, seolah-olah tidak dianggap keberadaannya, tiba-tiba harus terlibat dalam percaturan kekuasaan. Beberapa tokohnya justru menjadi calon yang akan dipilih," kata Mbah Sahal--panggilan akrab Rais Aam PBNU ini.Mbah Sahal yang juga pimpinan tertinggi NU ini juga mengatakan, apa yang ditampilkan banyak tokoh NU yang terlibat dalam dewasa ini, tidak atau kurang memperhatikan etika dan akhlak asli NU. "Karena itu, saya sebagai pemimpin tertinggi menyampaikan. Pertama, semua kandidat adalah warga negara yang punya itikad baik memperbaiki bangsa karena telah menandatangani prasasti penerimaan menang - kalah," katanya.Kedua, lanjut Mbah Sahal, ada tiga jenis politik, yakni politik kebangsaan dan kenegaraan, politik kerakyatan, dan politik kekuasaan. Dalam ranah politik kebangsaan dan kenegaraan NU sudah teruji. Tapi dalam ranah politik kerakyatan masih harus terus dikembangkan. Parahnya, NU lebih banyak meminati politik kekuasaan yang cenderung mengakibatkan keretakan perpecahan.Ketiga, semua yang terlibat dalam tim sukses agar menahan diri dan bersikap wajar dalam mendukung calonnya. Keempat, kiai yang menjadi panutan warga NU juga harus hati-hati dan waspada agar tidak melanggar khittah 1926, apalagi mengorbankan NU.Kelima, warga NU diminta bersikap dewasa sebagaimana ditampilkan dalam pemilu legislatif lalu. Keenam, warga NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya juga diminta melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti biasa meski ada hingar bingar pemilu. "Terakhir, mohonlah pada Alloh. Berharaplah pada-Nya agar pilihan kita akan membawa bangsa ini lebih baik. Semoga dengan seruan ini, tak ada lagi keresahan jami'ah nahdliyin terhadap problema NU, kekuasaan, dan kebangsaan," terang pengasuh Ponpes Maslakul Huda Kajen Pati. Seusai acara, Mbah Sahal tak mau berkomentar apa pun. Bahkan ia langsung pulang menuju Pati meninggalkan kiai-kiai penting seperti Mustofa Bisri atau Gus Mus, Abdullah Faqih (Tuban), Muhaiminan Gunardo (Temanggung), Anwar Mansur (Kediri), Ahmad Warsun Munawar (Yogya), Plh PBNU Masdar Farid Mas'udi, dan lain-lain. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini