Teror melalui telepon itu diterima seorang guru di SLB Alamanda di Laweyan, Solo, Senin (15/8/2011). Si penelepon itu bersuara laki-laki. Si penelepon mengaku sebagai anak buah Amrozi dan sudah memasang bom siap meledak di salah satu lokasi di dalam SLB.
Pihak pengelola SLB tidak menghiraukan ancaman itu. Mereka tetap melanjutkan proses belajar mengajar di sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Merasa diabaikan, dua menit kemudian orang tersebut kembali menelepon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama setelah itu, terdengar telepon yang ketiga. Kali ini penelepon mengaku sebagai polisi. Kali ini nada bicaranya lembut dan satun. Lewat telepon, 'Pak Polisi' itu memberitahu memang ada bom yang dipasang seseorang di sekolah tersebut.
"Karena kami megira si penelepon itu benar-benar dari kepolisian, maka kami segera mengakhiri proses belajar mengajar. Anak-anak kami pulangkan. Lalu kami segera menghubungi Polresta Surakarta untuk melaporkan peristiwa itu," papar Wilis.
Pihak kepolisian justri kaget mendapat laporan itu, karena merasa tidak ada anggotanya yang menelepon pihak SLB tentang keberadaan bom itu. Beberapa anggota Gegana Brimob segera dikirim ke lokasi. Mereka melakukan penyisiran di semua bagian SLB dan sekitarnya.
"Tim Gegana tidak menemukan benda mencurigakan apapun. Kami akan melacak pelaku teror karena perbuatannya sangat meresahkan, apalagi dilakukan terhadap sekolah," ujar Kapolsek Laweyan, Kompol Subagyo kepada wartawan, usai penyisiran.
(mbr/fay)











































