"Saya tidak hafal berapa jumlahnya, tapi ada sekitar 150 sekian anaknya polisi mulai dari pangkat bintara, pama (perwira pertama), pamen (perwira menengah) sampai pati (perwira tinggi)," kata Wakapolri, Komjen Nanan Sukarna, usai memimpin Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 di gedung Cendekia Akpol, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/8/2011).
Nanan menegaskan, 150-an anak anggota Polri yang lulus ini murni karena kemampuannya. Meski dari ratusan orangtua calon adalah anggota Polri, tidak menjamin kelulusan mereka. Ada dua anak perwira tinggi Polri yang justru tidak lulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 ini ditetapkan 396 orang lulus. Padahal, quota untuk tahun ini adalah 400 orang.
"Artinya ada kekurangan 4 orang, tapi tidak mungkin dipaksakan dari yang tidak memenuhi syarat, sayang sekali. Tapi itulah sistem," kata dia.
Nanan mengatakan, dalam penetapan kelulusan sidang ini dilangsungkan secara terbuka. Ia sekalipun, tidak dapat mengintervensi hasil kelulusan.
"Sekalipun saya, tidak bisa mengintervensi dan menginterupsi sistem yang ada. Itu makanya diharapkan persiapkan dirinya lebih awal," ujar dia.
Nanan melanjutkan, 396 calon taruna dan taruni ini lulus karena kemampuan mereka sendiri, bukan karena sogokan. Bila ditemukan masih ada panitia pendaftaran calon taruna Akpol yang meminta uang, ia mengimbau masyarakat untuk melaporkannya.
"Kalau ada yang menemukan, 'pak msh ada yang bayar, pak masih ada yang kolusi, laporkan, kita akan tampung dalam komplain," ujarnya.
Sementara itu, Nanan juga menegaskan tidak ada sistem 'titipan' dalam penerimaan calon taruna Akpol 2011 ini. Ia mengatakan, bila anaknya ingin dititipkan untuk menjadi polisi harus dibina dulu kemampuannya.
"Kalau mau, titipkan ke saya. Kalau ingin nitip, maka nitiplah ke saya sejak 3 tahun, 2 tahun atau minimal 1 tahun sebelumnya agar kita siapkan dia manjadi polisi untuk kita latih dari segi ESQ atau pramukanya. Itulah talent scouting, bukan kolusi," tukasnya.
Sementara itu, jumlah polwan di Polri sangat sedikit, padahal quotanya 30 persen. Untuk mengakomodir kekurangan tersebut, Polri membuka pendaftaran calon taruna/taruni Akpol setiap tahunnya berencana menambah kuotanya.
"Tahun depan kita buka lagi catar dan catir, kita siapkan untuk diajukan ke pimpinan, kepada pemerintah, kita tambah kuota," ujarnya.
Ia menambahkan, minat calon siswa Akpol setiap tahunnya rata-rata mencapai 17 ribu orang dari seluruh perwakilan Polda. Ia berharap, tahun depan pendaftar terus meningkat.
"Kita harapkan meningkat tapi dr kualitasnya. Jangan yang nggak masuk ITB baru masuk Akpol, itu terpaksa namanya. Peminatnya harus banyak tapi yang berkualitas," tutupnya.
(mei/lh)











































