Meski sedang dalam status terperiksa oleh Tim Etik, Chandra tetap diperbolehkan mengusut kasus korupsi wisma atlet SEA Games yang menyeret nama Nazaruddin.
"Boleh, kalau nggak, bisa nggak bergerak KPK," ujar anggota Tim Etik KPK, Said Zainal Abidin, yang ditemui usai diskusi yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) 'Perang Lawan Koruptor' di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (14/8/2011).
Said mengatakan, Chandra tetap menyandang posisi sebagai pimpinan KPK. Oleh karena itu, sebagai pimpinan sudah menjadi kewajibannya untuk turut mengungkap kasus ini.
"Pimpinan berfungsi untuk pemberantasan korupsi," jelasnya.
Menurutnya, keterangan yang disampaikan Nazaruddin soal pertemuannya dengan Chandra tidak bisa disangkutpautkan dengan pengusutan kasus yang lain. Pasalnya, sudah ada tim yang dibentuk khusus untuk menyelidiki kebenaran informasi yang disampaikan Nazar tersebut.
"Kalau soal pertemuan ya kita (tim etik), jadi itu dua hal yang beda wilayah," tegas penasihat KPK ini.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti ICW bidang korupsi politik Abdullah Dahlan, tidak sependapat dengan pernyataan Said. Menurutnya, agar KPK mendapatkan kepercayaan publik, harusnya Chandra tidak ikut mengusut kasus korupsi yang menjerat Nazar.
"Harusnya untuk kembalikan trust publik, pihak yang ada dugaan konflik kepentingan dalam kasus penyelidikan itu tidak terlibat dalam pengembangan kasusnya," kata Abdullah.
Dia mencontohkan, kondisi ini pernah terjadi saat pimpinan Bibit Samad Rianto ikut terseret dalam kasus korupsi dengan tersangka Anggodo Widjojo. Dia berharap, KPK kembali bersikap demikian.
"Seperti kasus penyelidikan pada kasus Bibit pada Anggodo, harusnya ini jadi contoh. Harusnya ini diberlakukan pada Chandra dan Ade Rahardja, dalam upaya membangun integritas proses penyelidikan yang dibangun KPK," terang Abdullah.
Kepada Tim Etik KPK, ICW berharap bekerja lebih serius dan menunjukkan progresnya. Meskipun, dalam jumpa pers kemarin CD dan flashdisk yang disebut-sebut menyimpan banyak data soal kasus ini tidak ditemukan oleh tim penjemput.
"Kita minta tim independen punya progres, jangan bergerak lebih lambat. Agar clear, dan itu akan lebih baik untuk bangun trust publik. Sedangkan soal tidak ditemukannya CD dan flashdisk, saya rasa alat bukti tidak cuma itu, tentunya banyak hal yang bisa mendorong tim independen kerja lebih keras lagi," ujar Abdullah yang mengenakan batik ini.
(lia/nrl)











































