Saat kejadian, mobil Toyota Yaris dikemudikan oleh siswa bernama BW (16). BW diketahui baru bisa mengemudikan mobil.
"Saya dapat informasi dari teman-temannya kalau si pengemudi baru bisa membawa mobil," kata ayah Aisah, Helmi Siregar (42), di rumah kediamannya, di Jalan Kebagusan 3 RT 003 RW 05, Pasar Minggu, jakarta Selatan, Sabtu (13/8/2011).
Helmi menceritakan kecepatan saat mobil naas menabrak separator busway adalah 80-90 kilometer per jam. Hal itu ia dapatkan dari teman-teman Aisah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Helmi menuturkan saat melihat jenazah putrinya, kondisi Aisah tampak seperti orang yang sedang tertidur. Tak ada setetes darah pun keluar dari hidung maupun telinganya. Namun belum bisa dipastikan apakah Aisah megalami pendarahan di bagian dalam tubuh atau bukan.
Kondisi BW, lanjut helmi, hanya mengalami luka di kening. BW kini masih dirawat di RS JMC.
"Saya ketemu BW, dia minta maaf. Lalu saya tanya apakah punya SIM, BW bilang punya. Saya tidak tahu kenapa umur 16 tahun sudah punya SIM," tutur Helmi sambil menerawang.
Menurut teman-temannya, sambung Helmi, setelah salat subuh di Masjid Al Azhar, BW berpamitan untuk pulang lebih dulu kepada Ketua OSIS. Namun Ketua Osis itu tidak mengetahui kalau Aisah dan empat kawan lainnya juga ikut pulang bersama BW.
Tidak hanya mobil BW yang pulang terlebih dahulu. Namun ada tiga iringan mobil lainnya. Sayangnya, mobil yang dikemudikan BW mengalami kecelakaan tersebut.
(feb/vit)











































