“Radikalisme yang berwatak agama khususnya Islam, bermula dari pemahaman keharusan negara Islam. Padahal penegakan syariat Islam dengan penegakan negara Islam itu beda,“ kata Hasyim Muzadi usai penandatanganan MoU antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan 8 organisasi Islam di kantor BNPT, Jl Imam Bonjol, Kamis (11/8/2011).
“Negara Islam itu alternatif. Buat negara mono agama seperti Vatikan, Pakistan, Iran itu memungkinkan. Kalau membuat negara Islam di Indonesia, artinya membongkar sel-sel di republik ini. Ini akan meruntuhkan negara ini. Kalau yang multi agama seperti di Indonesia tidak bisa,“ tukas pimpinan Pondok Pesantren Al Hikam II tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau menegakan syariat Islam Individual, akan mensuport negara ini. Itu yang perlu dilakukan,“ tukasnya.
(Ari/van)











































