Widati, 24 Jam Layani Kesehatan Warga Pulau Koloray

Widati, 24 Jam Layani Kesehatan Warga Pulau Koloray

- detikNews
Kamis, 11 Agu 2011 12:41 WIB
Widati, 24 Jam Layani Kesehatan Warga Pulau Koloray
Jakarta - Masih perlu waktu sekitar 45 menit lagi untuk naik speedboat dari Pulau Morotai ke Pulau Koloray. Padahal, 2 kali penyeberangan serta perjalanan darat sejauh 209 Km harus ditempuh untuk sampai di Morotai.

Bila tidak mau naik kapal langsung dari Ternate, untuk menuju ke Morotai harus menyeberang ke Halmahera Barat (Halbar) lebih dulu. Setelah itu, naik kendaraan selama 4 jam hingga sampai di Pelabuhan Tobelo, Halmahera Utara (Halut), tempat penyeberangan ke Morotai.

Perjalanan panjang itulah yang harus dilakukan oleh Widati (25) pada awal tahun 2010 lalu. Lulus dari Akademi Kebidanan Malang, Jawa Timur (Jatim) pada tahun sebelumnya, Widati memutuskan untuk mengabdi sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Provinsi Maluku Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kepingin tahu bagaimana kondisi di luar Jawa, selain juga kesempatan kerja di Jawa saat ini sudah sangat sedikit," kata Widati kepada detikcom saat mengikuti kunjungan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faisal Zaini ke Koloray, Senin (8/8/2011), lalu.

Awalnya, tidak terbayangkan bahwa ia akan ditugaskan di Pulau Koloray, satu dari 33 pulau milik Kabupaten Morotai, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Laut Pasifik di sebelah utara. Namun, setelah mendaftar dan diterima oleh Pemprov Malut, tantangan itu akhirnya diterimanya juga.

Ketika tiba di pulau nan jauh itu, Widati mondok di rumah kepala desa setempat. Ia harus melayani sekitar 400 penduduk Koloray dengan penuh keterbatasan baik sarana kesehatan maupun obat-obatan. Selain itu, penduduk yang rata-rata nelayan itu belum mengerti arti pentingnya pengobatan medis.

"Susah sekali untuk memberi pengertian kepada masyarakat di sini. Namun, akhirnya mereka mau juga untuk berobat bila sedang menderita sakit," kata perempuan berjilbab ini.

Namun, sejak 8 bulan yang lalu, Pemda setempat membangun Pusat Kesehatan Desa (Puskedes) di pulau kecil tersebut. Letaknya tidak jauh dari pinggir pantai. Setelah pembangunan selesai, Widati pindah dari rumah Kades ke Puskedes.

Dengan adanya Puskedes, Widati mengaku bisa melayani ibu melahirkan dan kesehatan masyarakat Koloray umumnya secara lebih baik. Tidak ada jam buka dan tutup di Puskedes itu, sebab Widati memantau masyarakat baik anak-anak maupun dewasa selama 24 jam penuh.

"Dalam sehari bisa 5-6 orang datang ke Puskedes. Tapi pada prinsipnya setiap hari buka 24 jam. Masyarakat di sini biasanya menderita hipertensi dan TB," kata Widati yang cuma senyum saja ketika ditanya pendapatannya bekerja di pulau terpencil.

Menurut Widati, fasilitas Puskedes masih perlu ditambah, antara lain tempat tidur pasien dan kapal ambulans. Kapal tersebut sangat dibutuhkan untuk membawa pasien dengan penyakit berat ke Puskesmas yang berada di pulau seberang. Saat ini, bila ada pasien kritis, ia terpaksa menyewa perahu nelayan.

"Kita biasa menyewa perahu nelayan kalau ada warga yang menderita komplikasi penyakit," ucap perempuan single ini.

Sudah 1,5 tahun Widati bergelut dengan keseharian masyarakat Koloray. Sejak menginjakkan kaki ke pulau terpencil itu, ia belum pernah pulang ke Madura untuk bertemu keluarga. Keluarga juga belum sempat untuk menengok dirinya di Koloray.

"Saya PTT sampai awal tahun 2013, berarti tinggal 1,5 tahun lagi," ucap Widati sambil mengatakan belum berpikir juga apakah tetap mengabdi di Koloray atau berpindah bila tugasnya selesai.
(irw/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads