"Masalah kenaikan harga yang terjadi saat ini, bukan lagi masalah rutin sebagaimana yang selalu terjadi pada bulan Ramadan, melainkan kenaikan harga yang terjadi karena kondisi memasuki situasi darurat pangan yang ditambah faktor rutin tersebut," ujar Wakil Ketua DPD, GKR Hemas dalam rilis kepada detikcom, Rabu (10/8/2011).
Menurut Hemas, penanganannya tak dapat bersifat parsial memfokuskan pada situasi Ramadan, tapi harus menyeluruh pada situasi mengatasi kondisi darurat pangan dengan menyegerakan gerakan swasembada pangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan, singkong pun sudah diimpor berton-ton dari Cina dan beberapa negara lain. Begitu juga garam yang diimpor hampir dua juta ton dari Australia, Singapura, Selandia Baru, Jerman, dan India," kritik istri Sultan HB X ini.
Menurutnya, kebijakan saat ini mengarah lebih suka mengimpor karena mudah dan mungkin juga menguntungkan pihak tertentu. Daripada memusatkan perhatian dan energi pada pembangunan swasembada bahan pangan yang perlu kerja keras. Namun bermanfaat jangka panjang.
"Indonesia sudah menjadi negara pengimpor segala. Sebut saja sepanjang Januari hingga Juni 2011, jutaan ton beras, jagung, kedelai, biji gandum, meslin, tepung terigu, gula pasir, gula tebu, daging, mentega, minyak goreng, susu, telur, ayam, kelapa, kelapa sawit, lada, kopi, cengkeh, kakao, cabe kering, cabai, garam, tembakau, kacang-kacangan, jagung, bawang, dll. Semua bahan kebutuhan pokok. Bawang merah diimpor belasan ribu ton dari India, Filipina, Thailand. Sedangkan sentra bawang di Brebes dan Tegal yang dulu berjaya, kini merana terbengkalai. Diperkirakan, total impor Januari-Juni 2011 mencapai Rp 45 triliun," bebernya.
Situasi ini menunjukkan Indonesia telah memasuki kondisi darurat pangan dan telah kehilangan kedaulatannya terhadap bahan pangan masyarakat. Tak ada gunanya lagi bermain-main dengan menyatakan persediaan pangan cukup, bahkan ada yang dinyatakan surplus, bila dalam kenyataan di pasar-pasar harga tetap membumbung. Dalam kaitan ini, DPD RI mengingatkan bahwa masalahnya kini bukan hanya soal harga-harga yang naik menjelang dan saat Ramadhan, tapi masalah darurat pangan dan hilangnya kedaulatan negara terhadap pangan.
"Ini masalah serius yang terus makin serius dan dalam jangka pendek dapat menjadi bencana. Karena itu, DPD RI meminta pemerintah segera menyelesaikan masalah utama dan permanen, yakni swasembada pangan dan mengurangi impor sesegera dan semaksimal mungkin, terutama pada bahan pangan yang dapat diadakan dengan cepat di dalam negeri seperti garam, singkong, ayam, telur, dan lain-lain," desaknya.
(rdf/adi)











































