Mengenakan kacamata hitam laiknya penyanyi dangdut, kehadiran warga bernama Muhammad itu sempat mengundang tawa hadirin, termasuk Helmy. Terlebih, Muhammad sudah tidak lagi muda, melainkan kakek-kakek berusia 72 tahun.
Tidak cuma itu saja. Gelak tawa di acara Safari Ramadan Menteri PDT di Halaman Kampus Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau terus berderai melihat tingkah kakek Muhammad. Saat hendak berbicara, ia tidak menghadap ke arah Helmy dan juga Wagub Malut Abdul Gani Kasuba, melainkan ke gedung Kampus. Sehingga beberapa kali badan kakek yang berbalut kemeja kotak-kotak itu diarahkan ke hadapan para pejabat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama, apa program nonfisik seperti untuk anak yatim dan lansia. Berapa dan apa saja?" tanya Kakek Muhammad sambil membaca secarik kertas. Tidak lupa, tetap dengan kacamata hitamnya.
"Mengapa Halmahera Barat dinilai sebagai tertinggal?" begitu ia menyampaikan pertanyaan keduanya.
Helmy yang terus tersenyum melihat Kakek Muhammad lantas menjawab. Namun, sebelum itu, ia mempersilakan kakek itu duduk di kursi paling depan, tidak di belakang lagi seperti semula.
"Untuk pertanyaan kedua, mengapa Halmahera Barat masuk daerah tertinggal, saya akan menjelaskan," ucap politikus PKB ini.
Menurut Helmy, daerah yang tergolong tertinggal adalah daerah yang mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) di bawah Rp 10 miliar. Di daerah yang sudah maju, pendapatan mereka bisa melampaui Rp 100 miliar dengan APBD sebanyak Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun.
Daerah akan masuk ke kategori tertinggal, lanjut Helmy kalau angka kemiskinannya di bawah angka nasional 14,1 persen. Di daerah tertinggal, angka kemiskinan bisa mencapai 40-50 persen atau dengan kata lain setengah dari total penduduknya miskin.
"Tingkat pendapatan masyarakat berdasarkan Bank Dunia adalah USD 2 per hari. Kalau di bawah itu maka dianggap miskin," jelas Helmy.
Masih banyak lagi paramater untuk mengukur ketertinggalan sebuah daerah. Helmy menyebut antara lain angka melek huruf, angka kematian ibu melahirkan, dan ketersediaan sarana transportasi dan komunikasi.
"Komunikasi juga termasuk faktor ketertinggalan karena komunikasi kan harus lancar. Bagaimana masyarakat bisa melihat dunia luar melalui pesawat televisi dan radio misalnya," tandas menteri muda ini.
Tidak jelas apakah Kakek Muhammad puas dengan jawaban Helmy. Ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Yang pasti, dia masih duduk terdiam tetap dengan kacamatan hitamnya tidak mengarah ke Helmy.
(irw/mad)











































