Hutan di Riau Dibabat, Debit Air PLTA Anjlok

Hutan di Riau Dibabat, Debit Air PLTA Anjlok

- detikNews
Selasa, 09 Agu 2011 15:07 WIB
Pekanbaru - Tiga PLTA di Riau dan Sumatera Barat (Sumbar) kekurangan debit air yang mempengaruhi produksi listriknya. Hal itu diakibatkan kerusakan hutan yang parah pada wilayah tangkapan airnya.
Β 
Direktur Walhi Riau, Hariansyah Usman mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (9/8/2011) di Pekanbaru. Sebagaimana diketahui, waduk PLTA Singkarak, PLTA Maninjau di Sumbar dan PLTA Koto Panjang di Kampar, Riau, terancam kekeringan.
Β 
"Kita melihat wilayah tangkapan air di sekitar waduk dan di bagian hulu sungai sudah banyak yang hancur akibat pembukaan lahan secara besar-besaran. Termasuk juga akibat illegal logging yang tidak terkendali sejak dulu," kata Hariansyah.

Masih menurut dia, kondisi hutan di sekitar PLTA Koto Panjang, sudah lama diwanti-wanti soal ancaman terhadap wilayah penampungan air. Hutan di sekitar waduk kini justru banyak yang berubah fungsi menjadi perkebunan dan pertanian dalam skala kecil dan besar.

"Dari dulu kita sudah ingatkan pemerintah, agar dapat menjaga kawasan tangakpan air di sekitar waduk. Namun pemerintah seakan tidak perduli dengan hal itu. Dalam beberapa tahun terakhir ini, debit air di waduk terus menurun, yang berakibat pada pemadaman listrik di dua provinsi," kata Hariansyah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya, waduk cepat terisi air saat hujan. Namun saat musim kemarau, air waduk cepat kering karena sumber air sudah tidak ada lagi.

Walhi memprediksi, bila pemerintah tidak segera menyelamatkan sisa kawasan tangkapan air di sekitar waduk tersebut, maka paling lama 10 tahun ke depan, PLTA Koto Panjang tidak akan berfungsi lagi.
Β 
"Jadi kalau pemerintah peduli dengan persoalan ini, semestinya harus berbuat menyelamatkan kawasan hutan. Jika tidak, sama-sama kita saksikan apa yang akan terjadi dengan PLTA Koto Panjang," kata Kaka.

(cha/fay)


Berita Terkait