HB X: Capres Teriak Merdeka Tanpa Memerdekakan Rakyat
Rabu, 30 Jun 2004 00:33 WIB
Solo - Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X menyoroti para capres yang sering meneriakkan kata merdeka. Padahal mereka tidak memerdekakan rakyat dari keserakahan nafsu para pejabat.Dia berharap presiden yang terpilih dalam Pilpres mendatang mampu menumbuhkan nasionalisme baru untuk memerangi kebodohan, kemiskinan dan KKN yang masih merajalela di tanah air. Sultan juga menilai pekik merdeka yang dipakai kontestan Pilpres baru secara ucapan tanpa penghayatan."Sekarang ini banyak kita dengar orang teriak-teriak dengan pekik merdeka di mana-mana, juga dalam kampanye-kampanye. Mereka cuma sekadar teriak tanpa tahu maknanya. Teriak merdeka tapi tidak memerdekakan rakyat dari keserakahan nafsu para pejabat yang terus-menerus memeras rakyat. Terus menerus pekikan itu dilakukan, tapi rakyat tidak pernah terbebaskan."Hal tersebut disampaikan oleh Sultan HB X usai menyampaikan sambutan dalam sesi dialog budaya di Istana Mangkunegaran, Solo, Selasa (29/6/2004) malam. Acara tersebut merupakan rangkaian Festival Kraton Nusantara IV, di mana Sultan HB X bertindak selaku ketua panitia pusat.Menurut Sultan, sejauh pengamatannya dalam berbagai kampanye yang dilakukan para capres maupun cawapres, tidak ada yang memiliki visi kebudayaan serta menyampaikan strategi apa yang akan dilakukan dalam menyikapi dan mereaktualisasikan nilai-nilai budaya nasional."Ada yang melontarkan agar dibentuk departemen budaya secara tersediri. Tapi pemikiran yang disampaikan baru dalam kaitan konteks lontaran manajerial atau pengelolaan, belum menyentuh pada aspek utama kebudayaan sebagai tata nilai pembaharuan berbangsa," kata dia.Sultan mengatakan, jika sebelumnya semangat nasionalisme itu bisa tumbuh karena adanya persamaan nasib tertindas oleh penjajah, maka yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang mampu menumbuhkan semangat kebersamaan untuk tercipatanya nasionalisme baru untuk mengentaskan Indonesia dari keterpurukan."Kalau dulu menghadapi penjajahan yang menindas, sekarang ini dibutuhkan nasionalisme baru menghadapi kebodohan, kemiskinan dan KKN yang terus merajalela itu. Mengapa sekarang tidak bisa tumbuh semangat kebersamaan itu. Karena itu kita butuh pemimpin atau presiden yang mampu menggali dan menumbuhkannya dengan pendekatan dari aspek budaya," paparnya.
(sss/)











































