Menanggapi hal itu, PDI Perjuangan meminta Yusril bersikap gentleman dengan tidak membawa-bawa Megawati yang menjabat Presiden RI saat Sisminbakum diluncurkan.
"Saya kira Yusril sebagai menteri kehakiman saat itu harus gentle, dia harus jantan. Katanya dia pemimpin, pemimpin harus tanggung jawab dong, masak pemimpin masih melempar lagi pada atasannya," kata Sekjen DPP PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo.
Hal itu dikatakan Tjahjo kepada wartawan usai mendampingi Megawati dalam acara buka puasa bersama PA GMNI dan KAHMI di rumah dinas ketua MPR, Jl Widya Chandra, Senin (8/8/2011).
Menurut Tjahjo, Megawati sebagai presiden saat itu tidak mengurusi hal-hal teknis seperti Sisminbakum. Megawati hanya meresmikan proyek tersebut.
"Saya kira Ibu Mega sebagai presiden jelas beliau tidak mengurusi hal-hal yang kecil. Itu kan tanggung jawab menteri. Menteri juga harus punya keberanian tanggung jawab, kalau toh itu tidak ada indikasi kenapa Yusril takut? Kenapa harus minta perlindungan pada Ibu Mega?" tanya eks ketua umum KNPI itu.
Tjahjo mengatakan, Yusril sangat tahu kalau kasus Sisminbakum sudah terpolitisir dan berkeyakinan menganggap tidak ada yang salah dalam Sisminbakum.
"Yusril harusnya berani menghadapi kasusnya sendiri. Tidak malah membawa-bawa presidennya. Keputusan teknis kan pada menteri," katanya.
Lebih jauh Tjahjo berpendapat, kunci penyelesaian kasus Sisminbakum ada pada Kejaksaan Agung. Dia meminta Kejagung melakukan langkah-langkah penegakan hukum yang tepat terhadap kasus apapun, termasuk Sisminbakum.
"Kalau memang tidak terbukti ya kejaksaan harus terbuka, harus fair tidak melanjutkan. Kalau memang ada buktÍ ada indikasi, kenapa takut? Saya kira semua permasalahan hukum yang ada harus diproses sebagaimana mestinya. jjngan karena ada tekanan, ada lobi," ujarnya.
(lrn/mad)











































