Soal 'Penabuh Gendang', Mubarok: SBY Memberi Ruang Berekspresi

Soal 'Penabuh Gendang', Mubarok: SBY Memberi Ruang Berekspresi

- detikNews
Senin, 08 Agu 2011 08:14 WIB
Soal Penabuh Gendang, Mubarok: SBY Memberi Ruang Berekspresi
Jakarta - Beberapa orang di sekitar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut kerap melakukan blunder dengan sering membuat pernyataan yang kontroversial. Namun, layaknya seperti para 'penabuh gendang', komentar yang keluar adalah ekspresi dari setiap kader Partai Demokrat.

"Memang Pak SBY seorang demokrat, bukan tipe Soeharto yang mengatur sampai hal yang sekecil kecilnya. SBY memberi ruang untuk berekspresi," ujar Wakil Ketua Umum PD Ahmad Mubarok saat berbincang dengan detikcom, Minggu (7/8/2011).

Menurut Mubarok, komentar yang sering dilontarkan oleh orang yang berada di sekitar SBY memberi pesan tentang adanya unsur demokrasi dalam kepemimpinan SBY.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang menjadi negatif saat itu masuk ke media dan menjadi distorsi," kata Mubarok.

Mubarok mencontohkan, distorsi yang terjad‭i d‎i dalam pemberitaan media, mengenai komentar Marzuki Alie yang disajikan secara terpotong oleh media.

"Tapi pada dasarnya berkomentar menurut ukuran demokrasi tidak masalah," jelasnya.

Dirinya juga membantah harus ada izin terlebih dahulu dari SBY, baru kemudian orang-orang yang berada disekitarnya dapat memberikan penjelasan kepada media.

"Itu tergantung kapasitas masing-masing. Tetapi ketika itu salah ya ditegur," terangnya.

Istilah penabuh gendang dikenal dalam komunikasi politik yang menganalogikan politik sebagai sebuah orkestra. angggota Dewan Pers, Agus Sudibyo menyebut, sebenarnya dalam hubungannya dengan pers, Presiden SBY relatif lebih baik dibandingkan para pendahulunya: tidak pernah membredel pers, mau membatalkan RUU Rahasia Negara, dan beberapa statemennya juga positif. Namun, sayang presiden masih sering mengkritik pers secara apriori.

"Selain itu presiden juga dikelilingi orang-orang yang suka memicu kontroversi, istilahnya para penabuh gendang," ujar pria yang kini menjabat ketua komisi pengaduan masyarakat dan penegakan etika Dewan Pers itu. Dalam diskusi ini, Agus juga banyak menyoroti kinerja media dalam menegakkan kode etik jurnalistik.

Agus Sudibyo menyebut beberapa nama yang menjadi penabuh gendang itu. Antara lain, Marzuki Alie, Dipo Alam, dan Ruhut Sitompul. Dalam catatan wartawan, tiga nama ini memang pernah atau sering berkomentar yang akhirnya mengundang kontroversi. "Dalam komunikasi politik, kontroversi-kontroversi yang dimunculkan para penabung gendang itu sedikit-banyak merugikan citra presiden," kata dia.

Lalu bagaimana dengan penabuh gendang lainnya (Marzuki Ali dan Dipo), apakah mereka juga sama penjaga setia seperti Ruhut? "Kalau soal mereka aku tak tahu bos, apa tujuannya. Tapi kalau aku ini penjaga yang paling setia," imbuh mantan pengacara kondang ini.




(fiq/ape)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini