Putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid, ayahnya sering dianggap kontroversial karena pernyataan atau gagasannya melampaui zamannya. Dia mencontohkan, pernyataan Gus Dur bahwa "anggota DPR seperti anak TK", seakan-akan terkonfirmasi dengan tindak tanduk wakil rakyat itu belakangan ini.
Namun demikikan, menurut Yenny, semua pernyataan kontroversial Gus Dur didasari tujuan korektif, bukan semata-mata membuat kontroversi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum Partai Kemakmuran Bangsa Nusantara itu mengatakan, pernyataan kontroversial Gus Dur tidak berbalik menuai makian, karena masyarakat sudah mengerti rekam jejak Presiden ke-4 RI itu. Hal tersebut yang membuat masyarakat memakluminya.
"Orang bisa memaklumi karena perekaman jejak Gus Dur bahwa apa yang dikatakan dan dilakukannya sinkron. Kalau tokoh-tokoh sekarang ingin kontroversial tapi tindakannya tidak konkret. Kalau sekedar bicara kontoversial, akhirnya rakyat jadi tidak simpati," kata Yenny.
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito, menilai kontversi yang dibuat Gus Dur menggugah orang untuk berpikir kritis dan mencerahkan masyarakat. Hal ini sangat berbeda dengan kontroversi yang dibuat para tokoh sekarang, sebut saja pernyataan Marzuki Alie soal pembubaran KPK dan pemaafan koruptor.
"Kontroversi Marzuki itu tidak ada isinya. Bukan bikin orang berpikir, malah bikin orang jengkel," kata Arie.
Kejengkelan masyarakat, kata Arie, bisa dipahami karena pernyataan Marzuki itu tidak didasari logika dan argumentasi yang kuat. "KPK aja kewalahan ngejar koruptor, kok ini mau dimaafkan," ujarnya.
Moeslim Abdurrahman mengatakan Gus Dur yang menjadi sahabatnya dulu bukan sekedar pembaharu biasa, tapi seorang pemimpin umat. Itulah yang membuat masyarakat tidak berbalik menyerang Gus Dur karena pernyataan kontroversialnya.
"Karena orang tahu Gus Dur punya misi pencerahan," ujar Moeslim.
(lrn/ape)











































