"Pertemuan di Oxford, Inggris tentang Papua cukup ditanggapi dengan sikap tenang. Papua sebagai masalah demokrasi HAM dan sebagainya," ujar mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono dalam sebuah perbincangan kepada detikcom, Minggu (7/8/2011).
Menurut Juwono, yang juga pernah menjadi Dubes RI untuk Inggris ini hal serupa juga pernah dilakukan oleh gerakan separatis dari berbagai negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Karena itu pertemuan di Oxford harus dimanfaatkan untuk memperkuat tekad di dalam negeri bahwa masyarakat dan Pemerintah RI tetap peduli dengan Papua. Pemerintah juga diminta tetap lanjut dengan kebijakan yang mengutamakan pendekatan persuasif serta mengurangi penggunaan pendekatan repressif.
"Yang penting setapak demi setapak prestasi keras aparat di lapangan untuk membangun kepercayaan rakyat Papua, bahwa kita semua peduli dan sangat menghargai martabat serta budaya Papua. Papua sebagai pembangunan mozaik Indonesia yang berkilau dengan cahaya terang. Kita doakan bahwa seluruh apparat kita di lapangan benar-benar tegas dan cerdas secara terukur, menghormati martabat dan budaya Papua yang semakin sejajar dengan budaya-budaya lokal lain," imbuhnya.
Anggota parlemen Inggris memfasilitasi pertemuan dengan anggota OPM. Pertemuan tersebut di kenal dengan International Parliamentary for West Papua (IPWP) yang diluncurkan di House of Commons, London, Inggris sejak 15 Oktober 2008, yang bertujuan untuk mendukung penentuan nasib sendiri warga asli Papua.
IPWP tersebut didukung oleh dua anggota parlemen Inggris yaitu Hon Andrew Smith MP dan Lord Harries. Ada juga eksil kemerdekaan Papua Barat Benny Wanda. Tokoh utama di balik pergerakan pembebasan Papua Barat ini adalah Benny Wanda. Benny juga menyatakan dirinya sebagai pemimpin kemerdekaan Papua Barat.
(her/ahy)











































