"Memang problemnya, penyalur berpikir ah cuma untuk jadi PRT ini, jadi tidak butuh kualifikasi. Seharusnya ada tes psikologi," ujar psikologi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung Efnie Indrianie, yang disampaikan pada detikcom, Jumat (5/8/2011)
Menurut Efnie, tes psikologi yang akan dilalui PRT tidak serumit seperti melamar pekerjaan di perusahaan. Prosesnya tidak berlangsung lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Efnie menambahkan, PRT itu dituntut memiliki stabilitas emosi yang baik dan paham instruksi majikan. Karena tidak bisa dipungkiri, pekerjaan rumah tangga bukanlah pekerjaan yang sederhana.
"Kelihatannya simpel. Tapi setiap rumah pasti peraturannya berbeda-beda. Itu yang kadang dapat membuat pembantu stres," imbuh dia.
Karena itu, lanjut Efnie, yayasan atau penyalur harusnya mengikutkan PRT pada tes-tes psikologi. Kualitas yayasan atau penyalur yang baik dapat terlihat dari PRT-nya.
Meski diikutkan tes psikologi, menurut Efnie, harga PRT tidak akan mahal. Sebab tes psikologinya tidak akan mengeluarkan biaya mahal.
"Yang penting stabilitas emosi dan yang bersangkutan sehat," tutupnya.
(nik/fay)











































