"Mereka ditangkap di depan PLN Jakarta Utara pada Selasa (2/8) sore," ujar Kepala Satuan Reskrim Polres KP3 Ajun Komisaris Jerry saat dihubungi wartawan, Rabu (3/8/2011).
Empat tersangka yang ditangkap adalah BB, IS, CH dan EI. Dari keempat tersangka, polisi menyita barang bukti uang palsu pecahan Rp 100 ribu sebesar Rp 13 juta dan uang asli senilai Rp 5 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari informan kita mendapatkan informasi adanya orang yang menawarkan penjualan uang yang dilipatgandakan," ujar dia.
Berdasarkan informasi tersebut, polisi kemudian melakukan penyamaran. Pada Selasa (2/8) sore, polisi menyamar sebagai pembeli. Saat itu, polisi bertemu dengan tersangka BB dan IS di depan PLN Jakarta Utara.
"Mereka saat itu menawarkan penjualan uang 1:3 atau Rp 100 ribu dibeli mereka senilai Rp 300 ribu," katanya.
Petugas kemudian menyerahkan uang sebesar Rp 5 juta untuk ditukar dengan uang Rp 13 juta. Setelah transaksi berhasil, petugas kemudian mengamankan kedua tersangka.
"Setelah dicek, uang yang Rp 13 juta itu ternyata palsu," kata dia.
Kedua tersangka kemudian digelandang ke Polres KP3 untuk diperiksa. Berdasarkan keterangan keduanya, mereka mengaku disuplai oleh tersangka CH dan EI.
"CH dan EI diamankan di kawasan Jakarta Selatan," ujar dia.
Jerry menjelaskan, peran BI dan IS adalah sebagai pengedar. Sementara CH dan EI adalah pemasok upal tersebut.
"Informasi dari mereka, upal tersebut diproduksi di Jawa Tengah," kata Jerry.
Sindikat upal di Jawa Tengah, menurut keterangan tersangka pada polisi, telah menyebarkan uang palsu sebesar Rp 5 juta. "Mungkin disebar ke daerah-daerah lain juga," ujar dia.
Jerry menambahkan, sasaran pelaku adalah sembarang. Mereka menawarkan uang tersebut ke masyarakat yang dianggap kurang teliti.
"Karena uang palsu ini, mirip banget dengan aslinya," ujarnya.
Hingga kini, polisi masih mengembangkan kasus tersebut untuk menangkap bandar besarnya. Sementara para pelaku dijerat Pasal 245 KUHP tentang uang palsu dengan ancaman pidana di atas lima tahun penjara.
Sementara itu, Jerry mengimbau masyarakat untuk mewaspadai peredaran uang palsu tersebut. Masyarakat diminta untuk teliti dan jeli jika menerima uang dari orang yang tidak dikenal.
"Gunakan 3D (dilihat, diraba dan diterawang) untuk memastikan keasliannya," kata dia.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menghindari penukaran uang yang ditawarkan oleh orang yang tidak dikenal. Momen puasa dan lebaran tahun ini, biasanya dijadikan ajang peredaran uang palsu.
"Lebih baik menukarkan uang di bank, lebih terjamin keasliannya," pungkasnya.
(mei/van)










































