Pemantauan pun dilakukan juga menggunakan seismograf. Petugas Pos Pengamatan Gunung Marapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi, Bujang, ketika dihubungi detikcom via telepon, Rabu (3/8/2011) mengatakan, kawasan di sekitar puncak gunung Marapi diselimuti kabut yang relatif tebal setelah menyemburkan 8 kali abu vulkanik pada pagi dan siang tadi.
"Kabut itu membuat kita kesulitan untuk memantau aktivitas gunung secara visual. Kalau seismograf tetap jalan 24 jam sehari. Status Marapi saat ini waspada dan belum dapat memastikan kapan status itu kembali diturunkan," kata Bujang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muntahan abu vulkanik menyebabkan lahan pertanian warga di sekitar gunung tertutup abu sampai 1 cm. Bila semburan abu berlanjut, tanaman sayur milik petani di kawasan itu terancam busuk.
"Kalau berlanjut, bisa dipastikan tanaman sayur kami akan busuk. Tanaman sayuran sangat rentan rusak kalau kena abu gunung," ujar Sutan Pamenan, warga Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.
Dikatakan Sutan, berdasarkan pengalaman, tidak hanya menyebabkan busuk, abu vulkanik juga dapat membuat tanaman sayuran seperti tomat dan kol mati. "Jujur saja saat ini kami khawatir sekali. Semoga saja semburannya tidak berlanjut karena bisa membuat kami rugi. Apalagi sekarang sudah bulan puasa dan sebentar lagi akan Lebaran," katanya.
Kawasan kaki Gunung Marapi, lanjut Sutan Pamenan, seperti kawasan Aie Angek, Sungai Pua, Koto Baru, dan Lasi, merupakan sentra sayuran organik yang memasok kebutuhan Sumbar dan Riau.
Informasi yang dihimpun detikcom, selain menyelimuti areal di sekitar gunung, abu vulkanik juga menyelimuti sejumlah kawasan di Kabupaten Padang Pariaman, seperti Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung, Kecamatan Patamuan, dan Kecamatan VII Koto.
(fay/fay)











































