"Untuk di daerah itu konflik lebih nyata. Semua punya kepentingan, tidak hanya politik tetapi juga ekonomi, terutama proyek," ujar sosiolog UI Musni Umar kepada detikcom, Selasa (2/8/2011) malam.
Musni menjelaskan, Pemilukada kental dengan politik balas budi. Calon terpilih akan membalas budi para pendukungnya. Ini yang membuat tim sukses dan pendukung mati-matian memperjuangkan calon mereka.
"Yang pengusaha dapat proyek, PNS naik jabatan, diberi akses-akses. Keadaan ini tidak bisa terelakan. Masyarakat di daerah pun ingin mendapatkan balas budi sehingga akan bertarung mati-matian," terang Musni.
Menurutnya, ongkos politik di Pemilukada sangat mahal, tidak cukup dengan Rp 10 miliar. Pada beberapa kasus malah mencapai ratusan miliar.
"Ini memunculkan tragedi. Saat seorang bupati atau gubernur terpilih, yang dilakukannya bukan memperjuangkan kepentingan rakyat dan daerahnya. Tapi hanya cari untung lewat proyek-proyek yang diberikannya pada para pendukungnya. Yang bukan pendukungnya tidak dirangkul, " jelas Musni.
Musni pun berharap partai politik memberikan pelajaran bagi calon-calon mereka yang akan maju Pemilukada. Partai harus mengikat calon mereka dengan target dan tanggung jawab untuk memajukan daerahnya. Bupati, walikota dan Gubernur yang akan disusung harus benar merealisasikan janji mereka saat kampanye.
"Partai jangan cuma mau terima uang saja saat pencalonan, lalu lepas tanggung jawab," kritik Musni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(rdf/fjr)











































