Pengamat kesehatan Kartono Mohamad mengaku gusar dengan anggapan dan asumsi selama ini yang berkembang di masyarakat yang seolah-olah bila regulasi konsumsi rokok diberlakukan maka petani tembakau akan bangkrut atau mati. Tidak ada pengalaman atau referensi yang memperkuat asumsi itu.
"Seolah-olah kalau regulasi diberlakukan tahun ini maka petani tembakau langsung akan mati. Hal itu sama sekali tidak benar. Tidak ada pengalaman atau referensi di negara mana pun konsumsi rokoknya sangat ketat lalu petani bangkrut," kata Kartono dalam diskusi bertajuk Executive Forum Media Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.
"Penafsiran ini yang membuat saya risau. Apakah petani tembakau di Amerika Serikat dan China mati? Padahal mereka regulasinya sangat ketat. Mereka malah ekspor. Kita malah impor tembakau dari China. Terlalu jauh penafsiran instan itu," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang Indonesia dijadikan pasar oleh negara maju seperti Amerika Serikat. Ini sudah ditekankan oleh menteri perdagangan zaman George W. Bush. Ia menekan negara-negara berkembang di Asia untuk membuka pasar rokok dari Amerika," ujar mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia ini.
Kartono sangat setuju petani tembakau harus mendapat perlindungan dari pemerintah. Karena itu ia meminta DPR membuat regulasi yang melindungi petani.
"Setuju petani harus dilindungi. Karena tataniaga tidak berpihak kepada mereka. Posisi tawar mereka sangat rendah di hadapan pabrik rokok. Perbaiki tataniaga. Tingkatkan mutu tembakau," ujarnya.
Kartono mengisahkan, pada masa kolonialisme, Belanda dulu mendatangkan ahli serangga ahli, ahli tanah dan juga ahli pupuk untuk mengembangkan tembakau di Indonesia. Hasilnya saat itu dikenal dengan tembakau Deli yang sangat terkenal di dunia. "Harus ada penelitian sehingga menghasilkan tembakau yang unggul dari Indonesia," saran Kartono.
Selain itu, pemerintah juga harus mendorong upaya diversifikasi olahan tembakau. Agar petani tidak tergantung pada perusahaan rokok maka pengolahan tembakau menjadi parfum dan juga hasil penelitian LIPI yang menghasilkan penawar diabetes perlu terus dikembangkan.
"Tinggal pemerintah mengembangkannya. Jadi petani tidak tergantung pada industri rokok. Termasuk bantu petani yang ingin alih tanam ke komoditas lain selain tembakau," ujar Kartono.
(nwk/nwk)











































