Memasuki hari pertama puasa Ramadhan, suasana di Kompleks Parlemen, Senin (1/8), tampak lengang. Memasuki tempat parkir sepeda motor yang berada di sebelah barat, masih sangat lapang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB.
Pada hari-hari di luar bulan puasa, bagian pengamanan (Pamdal) biasanya sudah menutup pintu masuk, bahkan menghalanginya dengan sebatang kayu. Para pengendara pun terpaksa mencari tempat parkir lain, yang berada di samping Kantin Pujasera atau di tempat parkir DPD, yang letaknya lumayan jauh.
"Maklum, hari pertama puasa," ujar seorang Pamdal sambil membetulkan motor yang posisi parkirnya menyerong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deretan bangku kayu dan meja terlihat rapi dan bersih. Padahal di hari biasa, menjelang makan siang itu, banyak pula pengunjung yang sekadar ngopi, ngeteh bahkan makan berat.
Suasana di ruang wartawan tak jauh berbeda. Bagian lobi utama yang berada di Nusantara III itu, tak menampakkan keramaian. Ruang pressroom yang biasanya ramai oleh para jurnalis, terlihat kosong. Memang, sebagian wartawan ikut menghadiri acara konferensi pers Ketua DPR Marzuki Alie yang menerima Tim Ekspedisi Merdeka yang salah satu pendakinya seorang penyandang cacat.
Justru yang tampak ramai adalah spanduk, terutama di bagian belakang yang berada di Jalan Lapangan Tembak. Spanduk dari para petinggi partai ikut meramaikan suasana bualan puasa. Misalnya dari Partai Demokrat spanduk memasang empat foto petinggi partai yakni Susilo Bambang Yudhoyono, Anas Urbaningrum (Ketua Umum), Tri Yulianto (DPP DKI) dan Nachrowi Ramli (Korwil DPD DKI), yang juga mencalonkan diri sebagai gubernu DKI Jakarta.
Partai Golkar juga tidak ketinggalan. Foto paling mendominasi siapa lagi kalau bukan Aburizal Bakrie, ketua umum Golkar. Dengan rambut yang sudah mulai menipis, pengusaha ini tampak menebar senyum. Sedangkan Partai Gerindra memasang foto Prabowo Subianto yang mencalonkan diri sebagai presiden pada periode ; mendatang. Prabowo tampak berpeci dan berbaju koko warna putih. Pesan yang disampaikan juga sama, yakni "Marhaban Ya Ramadhan", dengan kalimat tambahan seperti ; "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa" atau tambahan kata-kata religius lainnya seperti "Taqwa" dan "Iman".
Para penglaju yang lalu lalang seolah tidak peduli dengan seluruh spanduk itu. Mungkin mereka sudah tahu apa yang disampaikan atau mungkin juga bosan membacanya. Masyarakat pasti hanya ingin agar puasa ini bisa dijadikan sarana perbaikan diri, terutama bagi para pemimpin. Sebab, masyarakat sudah jenuh dengan pesan politik dalam spanduk.
(nwk/nwk)











































