"Kalau ditanya apakah kamu percaya dengan hukum di Malaysia? Saya jawab tidak," ujar Datuk Seri Anwar Ibrahim dalam Forum Publik bertema 'Akses Terhadap Keadilan: Pengalaman Malaysia' di Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (30/7/2011).
Terhadap kasusnya yang masih bersidang di Pengadilan Tinggi Malaysia, Anwar menyebut dirinya hanya berusaha mengikuti proses hukum yang berjalan, bukan berarti tunduk. Bahkan, Anwar menyatakan akan menelusuri pihak-pihak yang berkonspirasi dalam kasus hukum yang dituduhkan padanya. Anwar berniat menunjukkan pada publik bahwa dirinya tak bersalah dan hanya menjadi korban fitnah belaka.
"Lalu kenapa kamu masih tunduk kepada proses? Saya tidak tunduk, saya hanya ikut proses. Dan kita akan cari dalang, saya akan melawan sehabis-habisnya dan sebaik-baik kita," tegasnya.
Lebih lanjut, Anwar mengaku sangat pesimistis dengan penegakan hukum di Malaysia saat ini. Sebabnya, praktik penegakan hukum sarat oleh kepentingan pihak tertentu dan penuh tipu muslihat. Pengadilan di Malaysia, menurut Anwar, lebih mirip seperti 'sarana' bagi penguasa untuk mengesahkan tudingan kotor mereka terhadap musuh politiknya.
Anwar merujuk pada hasil riset sejumah organisasi maupun LSM asing soal proses peradilan dan penegakan hukum di Malaysia. Salah satunya, yakni International Parliamentary Unit.
"Hasilnya menunjukkan adanya pelanggaran hukum, yang diterima dan disahkan oleh hakim. Semata-mata karena tuduhan itu, Mahkamah itu, hanya ruang bagi mereka (pemerintah) untuk mengesahkan," jelasnya.
Bagi Anwar, proses peradilan dan hukum di Malaysia cenderung memihak pada orang-orang besar. Akses terhadap hukum atau keadilan bagi rakyat kecil sangatlah buruk. Anwar membandingkan kasus seorang gadis yang dihukum rotan hanya karena minum segelas bir. Sementara para orang kaya yang banyak minum arak, namun tak tersentuh hukum.
"Gadis minum bir dihukum rotan, saya protes. Karena apa? Bukan karena menentang syariat, tapi saya tahu para pembesar di hotel-hotel besar boleh minum arak. Saya bilang, yang minum satu gelas bir, dicambuk. Tapi mereka yang lebih dari satu gelas bahkan satu 'company', kemudian dicium tangan. Kalau mau tegakkan hukum, hukum itu tidak kenal pangkat dan derajat," tegas Anwar.
"Hukum harus benar-benar dapat menjamin justice, atau access (to the law), itu intinya," imbuhnya.
Anwar menambahkan, dirinya yang melontarkan pendapat tersebut malah dituduh menentang syariat. Parahnya, karena media dikuasai sepenuhnya oleh partai, maka Anwar pun tak bisa memberi tanggapan untuk membela diri. Oleh karena itu, Anwar pun mengaku tak lagi percaya dengan peradilan dan hukum di Malaysia.
"How can I expect the corrupt system? I'm not optimistic of the trial, but I'm optimistic of the future of Malaysia. Saya yakin masa depan Malaysia ke arah perubahan, reformasi dan sistem yang lebih adil. Saya yakin, Insya Allah, kita mampu menewaskan (menggulingkan) mereka (pemerintah saat ini), pasti bisa," tandas Anwar.
(nvc/rdf)











































