"Tahun 2010 lalu tipe letusan Merapi sifatnya merusak. Kita tidak tahu letusan tahun depan itu seperti apa. Merusak atau tidak," kata Kepala BPPTK Yogyakarta, Subandriyo saat berdialog dengan warga Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman di balai desa, Sabtu (30/7/2011).
Dia mengatakan bila sifat kembali merusak, ancaman terhadap warga dan lingkungan sekitar sangat besar. Namun bila tipenya berubah seperti biasa yang ditandai dengan pembentukan kubah lava di puncak disusul material kubah lava itu kemudian longsor dan menimbulkan awan panas atau wedhus gembel. Hal itu merupakan tipe letusan normal Merapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, saat ini arah letusan sudah jelas mengarah ke selatan yakni di wilayah Sleman dan Klaten, Jawa Tengah, karena bukaan kawah mengarah ke selatan. Dengan demikian warga yang tinggal di lereng selatan yang terancam. Namun untuk berpindah arahnya juga memerlukan waktu yang lama.
"Dulu tahun 1930-an letusan mengarah ke barat. 80 Tahun kemudian atau sekarang ini berubah ke selatan dan kita tidak tahu kapan arah letusan itu berubah lagi," katanya.
Dia menambahkan saat ini ada tiga ancaman dari Merapi. Pertama ancaman awan panas yang merupakan bahaya primer bila beraktifitas. Kedua ancaman bahaya sekunder yakni lahar hujan yang saat ini timbunan material ratusan meter kubik masih memenuhi di Kali Gendol dan sungai lainnya yang berhulu di puncak Merapi.
"Bahaya tersier atau ketiga adalah ancaman kerusakan lingkungan di Merapi seperti hilangnya sumber-sumber mata air. Ini yang perlu diperhatikan dan harus diatasi," tutup Subandriyo.
(bgs/rdf)











































