Berikut wawancara detikcom dengan Nuril di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (29/7/2011).
Kapan pertama kali kenal dengan Nazaruddin?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari mana Anda mengenal Nazaruddin?
Ya dari jaringan bisnis, saya kan punya usaha kecil, nah jaringan itu yang akhirnya membawa saya kenal dengan Nazaruddin.
Lalu kapan Nazaruddin meminta Anda jadi staf?
Saya diminta untuk jadi staf dia pas pengumuman legislatif, tapi saya masih tolak permintaan dia itu. Lalu saya putus kontak karena handphone saya hilang dan nomor dia hilang, hingga pada Maret 2010 saya dekat lagi, saya SMS dia dan dia menyuruh ke kantornya.
Lalu Anda jadi stafnya?
Dia kan dua kali ganti staf, lalu pas ketemu itu dia minta saya untuk jadi staf ahli, dan saya terima. Saat bertemu itu kami cerita banyak, soal politisi dan sebagainya. Kalau sedang diskusi, dia orang yang hangat.
Sejauh apa Anda mengenal Nazaruddin?
Ada yang memang privasi yang saya ketahui dan ada yang tidak. Tapi menurut saya, untuk urusan bisnis, saya kira belum ada prestasinya, perusahaan dia kan biasa-biasa saja ya. Kebanyakan perusahaan dia itu hanya mirip broker.
Berapa jumlah perusahaannya?
Sekitar 50-an perusahaan tapi saya nggak ingat begitu detil. Tapi pusatnya ya itu PT Anak Negeri.
Nazaruddin ini orang seperti apa?
Nazar ini kan orangnya lebih suka di belakang layar dia nggak mau muncul. Makanya saya kaget sekarang memborbardir habis-habisan. Saya kira ada agenda politik yang punya kepentingan yang memakai Nazar, itu kan merusak nama baik banyak orang, orang-orang yang disebutkan itulah.
Mengapa dia begitu?
Karena memang gini, bahasanya dia nggak mau kena sendiri. Kalaupun misalkan ada kita patokan dengan fakta hukum yang ada, saya yakin KPK punya bukti untuk mengusut orang yang tersangkut. Bukan hanya Wisma Atlet, Kemendiknas yang soal peningkatan mutu pendidikan. Saya pun tahu sepak terjang Nazar dari orang lain dari teman-teman bisnisnya.
Siapa yang menyetir Nazaruddin menurut Anda?
Kalau orangnya saya nggak tahu, tapi yang jelas ada yang ingin Partai Demokrat (PD) dirusak. Di Bali Anas diancam, kalau saya (Nazar) tidak dibantu, saya bongkar itu kongres. Yang diancam itu termasuk Benny K Harman.
Kalau soal uang di Kongres PD yang disebut Nazaruddin?
Ya memang ada, tapi itu uang dari donatur-donatur yang menyumbang Anas. Untuk memenangkan Anas, dan itu jumlahnya tidak sebesar yang diomongkan itu. Sumbangan-sumbangan itu memang lewat Nazar. Tapi kalau jumlah uang itu termasuk kecil dibanding kongres-kongres yang lain.
Lalu kalau soal Aan, sopir Nazaruddin?
Ini konspirasi kebohongan untuk merekayasa kasus ini.
Anda kenal dengan Aan?
Aan saya kenal, dia kan sopir Pak Nazar, saya kenal. Dia juga salah satu kurir Pak Nazar untuk mengantar uang-uang yang sering disebut 'Apel Malang', 'Kue' dan sebagainya. Aan ini meski sopir tapi dia dapat uang banyak dari Pak Nazar sampai bisa beli mobil X-trail. Jadi kalau sekali antar (duit) dia pasti dapat itu.
Kalau Anda, apakah juga dilibatkan dengan proyek-proyek Nazaruddin?
Saya tidak pernah dilibatkan kalau soal proyek-proyek. Saya pokoknya hanya mengurus keperluan Nazaruddin dan menjalankan perintahnya saja. Kalau soal proyek, saya nggak tahu menahu, saya nggak pernah dilibatkan.
Benar soal Chandra M Hamzah pernah bertemu?
Saya lihat Chandra M Hamzah waktu itu ada Pak Benny juga tapi Pak Benny tidak tahu kalau ada Pak Chandra di rumah Pak Nazar. Itu kapan ya tahun 2010 setelah liburan bulan Mei. Itu saya cuma sekali melihat Pak Chandra bertemu Pak Nazar. Kalau ada kedua, ketiga, ya saya nggak lihat.
Soal pembagian uang dari Tim Sukses Anas?
Memang ada bagi-bagi uang, tapi itu uang transportasi dan akomodasi, tidak ada itu bagi-bagi uang banyak. Itu hanya uang untuk ganti transport saja, kan mereka tidak datang jalan kaki. Saya ngasih itu di Grand Aquila, tempat para peserta kongres menginap. Itu atas perintah Nazaruddin. Anas sendiri nggak tahu itu, itu Ketua Tim Pak Mubarok yang bilang tolong dibantu para kader yang datang. Uang itu sekitar Rp 1 juta per orang. Tergantung jauhnya, dari mana mereka datang.
Jadi tidak benar Anas menang karena uang?
Tidak ada itu, Anas itu sudah konsolidasi ke DPC-DPC sejak lama. Bukan karena uang tentunya.
Apa benar Anas yang menyuruh Nazaruddin ke Singapura waktu itu?
Itu tidak benar.
Di mana Nazaruddin berada?
Saya nggak tahu, mungkin di Singapura karena anak-anak dan istrinya kan di sana. Kalau di Argentina, saya nggak tahu, tapi dia tidak pernah ke Argentina sebelumnya tapi dia pernah ke China.
(ken/her)











































