"99 Persen omongan Nazaruddin itu menguap semua, itu bohong semua. Semua omongan dia setelah dia melarikan diri itu bohong," kata Nuril saat berbincang dengan detikcom di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (29/7/2011).
Menurut Nuril, semua tudingan Nazaruddin soal Wisma Atlet dan Hambalang hanyalah rekayasa. Nazaruddin melakukan itu karena merasa kecewa tidak dibantu oleh PD terkait kasus yang menjadikannya tersangka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuril pun berharap Nazaruddin pulang ke Indonesia dan memberikan bukti-bukti yang dimilikinya. Dengan begitu, semua akan jelas dan siapa saja yang terlibat akan ketahuan. "Kalau dia bilang ada bukti flash disk dan sebagainya, silakan bawa ke Indonesia, supaya kita bisa tahu semua," katanya.
Namun Nuril mengakui ada satu hal sedikit sesuai fakta. Hal itu adalah soal bagi-bagi uang yang dilakukan dia untuk sejumlah Ketua DPC PD yang telah berkomitmen mendukung Anas sebagai Ketua Umum PD.
"Yang benar ya cuma soal saya bersama Eva membagikan uang untuk pimpinan DPC PD itu. Tapi itu bukan uang suap atau apa, itu hanya uang pengganti transport dan akomodasi untuk kader yang datang. Jumlahnya juga tidak banyak," kata Nuril.
Lalu berapa jumlah uang yang dibagikan Nuril dan Eva sebagai uang transport dan akomodasi itu? Menurut Nuril, jumlahnya berbeda-beda tergantung berapa jauh jarak DPC tersebut dari Jakarta dan berapa orang yang datang ke Jakarta.
"Jadi kalau dari luar Jawa tentu berbeda dari yang dari Jawa. Kan ongkosnya transportasinya juga beda, tapi rata-rata satu orang itu sekitar Rp 1 juta," terangnya.
Nuril mengatakan, pembagian uang transportasi dan akomodasi itu dilakukan atas perintah Ketua Tim Pemenangan Anas Urbaningrum, Ahmad sebagai Ketua Umum PD. Menurut Nuril, bisa jadi Anas sendiri tidak tahu soal itu.
"Ini kan yang perintah tim pemenangan Anas, saya dan Eva kan hanya membagikan karena saya memang bertugas sebagai staf Nazaruddin," kata Nuril.
(ken/her)











































