"Gak ada dokumen kok dipublish, gak boleh. Tapi dipelajari dalam rangka penyelidikan," kata Ketua KPK Busyro Muqoddas di sela-sela acara dialog "Islam Kultural dan Islam Ideologis, Mungkinkah Terjadi Konvergensi?" di kampus Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (28/7/2011) malam.
"Tapi kan ada 120 perusahaan yang terkait tender di pemerintah," tanya wartawan. "Iya, tahap penyelidikan tidak boleh dipublis," elak Busyro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyidik KPK sebelumnya menggeledah kantor Nazaruddin di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Di salah satu ruangan terdapat beberapa brankas ukuran besar tempat menyimpan uang. Salah satunya brankas khusus yang hanya bisa dibuka Nazaruddin.
Awalnya, KPK bergerak dari kantor Kemenpora pada 20 April lalu. Pengakuan Mindo Rosalina Manulang, karyawan Nazaruddin di PT Anak Negeri, membuka jalan ke kantor itu. Rosa menyebut alamat kantor Nazaruddin sebagai perusahaannya.
Sesampainya di lokasi, penyidik KPK menemukan sejumlah temuan. Meski karena kontak yang dilakukan Rosa dengan seseorang dengan diam-diam, ada berkas-berkas yang sudah dilarikan orang tak dikenal dengan mobil boks dan ada juga yang dibakar.
Di dalam ruangan ada bagan perusahaan-perusahaan Nazaruddin dengan proyek-proyek yang ditangani dan keuntungan yang didapatkan.
Nazaruddin dengan hampir 155 perusahaannya sudah beroperasi lama. Ada 20 perusahaan yang sudah menghasilkan. "Informasi yang kami dapatkan, 3 brankas itu mempunyai fungsi masing-masing, dan ada 1 brankas yang khusus menyimpan keuntungan atau fee dari proyek-proyek itu," ujar salahs eorang sumber yang enggan disebutkan namanya.
Brankas itu kini diangkut KPK. Keterangan dari sejumlah saksi, brankas itu tempat menyimpan uang tunai dari keuntungan proyek-proyek. "Ke mana uang itu mengalir setelah di brankas, kami tidak tahu," urai sumber tersebut.
(fiq/anw)










































