Puan: PDIP Tak Tergoda Dorongan Makzulkan Presiden

Puan: PDIP Tak Tergoda Dorongan Makzulkan Presiden

- detikNews
Kamis, 28 Jul 2011 20:27 WIB
Puan: PDIP Tak Tergoda Dorongan Makzulkan Presiden
Manado - Di tengah dugaan skandal korupsi yang melanda partai penguasa, PDI Perjuangan mengaku didorong-dorong sejumlah pihak untuk memakzulkan (impeach) presiden. Namun demikian, partai oposisi itu tidak tergoda dengan dorongan-dorongan tersebut.

"Dorongan-dorongan itu pasti ada dan kita realistis aja, sampai hari ini kan yang dianggap menjadi saingan presiden hari ini adalah PDI Perjuangan. Tapi kita nggak mau ke ranah itu. Biar kita dikatakan partai oposisi, bukan berarti kita dalam posisi menjatuhkan pemerintahan yang sah," kata Ketua Bidang Politik DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani.

Hal itu disampaikan Puan di sela-sela acara Rakornas III PDIP di Hotel Sedona, Manado, Kamis (28/7/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menambahkan, meski kepercayaan masyarakat kepada pemerintah saat ini sedang turun, namun PDIP tidak mau tergoda melakukan cara-cara yang inkonstitusional.

"Jangan sampai PDI Perjuangan dinilai punya sikap subjektif hanya karena 2009 kalah pemilu, kita tidak akan fair dikatakan rakyat sekarang," kata putri Ketua Umum Megawati Soekarnoputri ini.

Menurut Puan, penjatuhan Presiden di tengah jalan akan menciderai demokrasi di Indonesia. "Apakah itu tidak menjadi preseden buruk bagi bangsa dan negara ini?" katanya.

Puan mengatakan, partainya juga tidak mau dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menginginkan jatuhnya pemerintahan.

"Kita tidak mau dijadikan cuma 'anak nakal', yang kemudian mengambil manfaatnya orang lain, ngapain. Jadi kita harus berpikir politis dalam artian apa gunanya manfaatnya bagi PDI Perjuangan kalau itu terjadi," ujarnya.

"Karena sesuai undang-undang, belum tentu kalau dijatuhkan pemenang nomor dua akan naik, enggak. Karena itu akan mulai lagi pemilihan presiden di parlemen. Yang mengajukan presiden dan wapres partai yang menang pemilu, akhirnya kan Demokrat juga yang menang, bukan
kita," ujarnya.

(lrn/anw)


Berita Terkait