"Saya Samuri Bin Darimin petani desa di Trenggalek, lulusan SD, buta hukum, korban mafia hukum mencari keadilan di Jakarta," ujar Samuri yang mengenakan jaket cokelat.
Hal ini disampaikan Samuri dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mengambil batu dan tanah sawah saya dari tanggal 13 Mei 2010 sampai tanggal 16 Juni 2010 mengumpulkan 250 karung dan 5 ton batu yang saya jual Rp 1.250.000 dikurangi ongkos truk Rp 200.000 sehingga saya mendapat hasil Rp 1.050.000. Selama lebih kurang 34 hari saya pergunakan untuk membiayai sekolah dan keluarga saya," tutur Samuri.
Samuri sudah meminta dukungan ke MA namun tidak digubris. Bahkan ia diusir Satpol PP setelah 18 hari menginap di depan kantor MA. Padahal ia tak pernah tahu ada kandungan mineral di tanahnya.
"Atas perbuatan saya yang mengambil batu di tanah saya tersebut saya didakwa melakukan penambangan dan diadili dengan tuduhan melanggar pasal 158 jo pasal 67 UU No 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral karena batu yang saya ambil katanya mengandung tembaga (Cu) sebesar 0,03 persen," tutur Samuri.
Samuri pun sudah mengajukan Kasasi. Namun karena tak tahu kapan kasasi diputus, ia terlambat mengajukan memori kasasi atas keputusan yang sama. Tak hanya itu saja, Samuri pun sempat dirayu salah seorang jaksa laki-laki, layaknya kekasih.
"Saya dicolek terus disuruh lepas baju sama jaksa Trenggalek namanya Pak BS. Setiap disuruh saya lari, katanya kalau nggak mau saya naikkan masalah kamu. Setelah itu permasalahan saya dinaikkan. Saya sudah membayar sama orang Polres Rp 3 juta tapi tetap saja kasus jalan terus," tuturnya sambil tersenyum.
Menanggapi ini Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso akan segera meluruskan ke Kejati dan Kejagung. "Saya akan menelepon Pak Kajati. Intinya ada perlakuan demikian miris yang namanya Trenggalek itu nun jauh disana, ini layak kita angkat menjadi potret kebopengan hukum kita. Kita harap Kejagung memperbaiki itu semua," tutur Priyo.
Ia juga meminta MA mengambil tindakan tegas. "Saya minta MA segera koreksi hakim yang bermain di belakang layar. Termasuk jaksa dan polisi harus diperiksa," tegasnya.
(van/rdf)











































