Mereka kesal karena manajemen Garuda tidak bisa mengkonfirmasi kapan mereka bisa terbang.
Sekitar 20 orang secara bergantian meluapkan emosi di ruang customer service Garuda Indonesia, tepat di ruang masuk terminal keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (28/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimana ini?! Kita nggak jelas berangkatnya jam berapa! Bagaimana saya bisa berangkat kalau begini?!" teriak seorang penumpang.
Mendengar amarah para penumpang tersebut, petugas CS Garuda berusaha tenang. Perempuan ini hanya menjelaskan kepada penumpang bahwa tiket mereka bisa diuangkan. Namun tak semua penumpang mau mengganti tiket mereka dengan uang dan beralih ke pesawat lain.
Seperti yang dialami Taufik, penumpang yang hendak berangkat ke Jakarta. Taufik enggan menguangkan tiketnya karena jika mencari tiket pesawat lain, harganya sudah jauh lebih mahal dan sudah penuh.
"Pesawat lain nggak bisa lagi karena sudah full. Sementara saya harus ikut rapat pukul 16.00 WIB. Kalau beli yang lain juga harganya sudah jauh lebih tinggi," kata Taufik menggebu-gebu.
Menurut Taufik, seharusnya pihak Garuda memberitahu penumpang mengenai aksi mogok kerja para pilot. Taufik masih bertahan dan menunggu keberangkatan pesawat hingga pukul 13.00 Wita.
"Kami terus terang kesulitan. Tidak ada kejelasan mengenai keberangkatan. Tapi saya mau tunggu dulu bagaimana," ujarnya.
Tak cuma Taufik yang kesal. Penumpang lain bahkan hendak menyisir bandara untuk mencari pilot Garuda. Jika bertemu dengan pilot Garuda, penumpang akan memaksa untuk menerbangkan pesawat.
"Mana pilotnya ini! Saya mau cari! Kalau perlu kita jemput paksa. Dia harus terbangkan pesawat!" teriaknya.
(gus/nrl)











































