"Rekening uang saya Rp 58 juta," kata Amran dalam seleksi CHA di kantor Komisi Yudisial (KY), Jalan Kramat Raya, Rabu, (27/7/2011).
Uang tersebut tersebar di beberapa bank. Salah satunya di Bank BCA. Karena saat itu ada paket diskon belanja di Carrefour bagi pembeli yang menggunakan kartu debet BCA. Lantas Amran pun membuat tabungan BCA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arman juga menjelaskan mengapa kedua anaknya bekerja di Pengadilan Agama (PA), satu korps dengan dirinya. Anak pertamanya yang sarjana akuntansi awalnya bekerja di Astra Sunter. Namun dia mencoba ujian hingga 3 kali untuk bisa bekerja di bagian administrasi PA Medan. Sedangkan anak keduanya masuk menjadi pegawai PA Jakarta Utara menggunakan ijazah SMA.
"Habis lulus SMA, saya sarankan ikut ujian," ungkap Arman yang mengenakan jas hitam berdasi biru.
Jawaban-jawaban ini membuat panelis terdiam. Apalagi saat Arman menjelaskan kepemilikan rumahnya di Jati Asih Bekasi. "Rumah di Jati Asih saya mencicil. Ukuran tanahnya cuma 6 x 15 meter. Kalau rumah di Medan, saya beli waktu tugas di PA Medan. Sekarang dikontrakan," cerita Arman.
Kekayaan Arman ini membuka mata masyarakat tidak selamanya hakim hidup mewah. Meski sudah ngantor di MA sekalipun. "Tahun 2008 rekening saya sempat Rp 200 jutaan. Tapi itu karena hasil menjual kendaraan. Kini tinggal Rp 58 juta karena sudah saya belikan lagi kendaraan. Karena saya sudah capai, naik kendaraan umum. Jadi saya belikan kendaraan," kisah Arman menutup wawancara.
(asp/rdf)










































