"Saya sedih melihat tempat ini dirobohkan. Sebaiknya ini dipugar dan dibuat museum reformasi. Daripada Lubang Buaya yang banyak bohongnya, lebih baik ini dikonservasi karena ini adalah fakta," kata Muktar Pakpahan di depan puluhan peserta peringatan 27 Juli di bekas kantor PDI, Jl Diponegoro 56, Jakarta, Rabu (27/7/2011).
Saat ini, gedung tersebut sudah diratakan dengan tanah. Tidak jelas akan dibangun apa nantinya di atas bekas bangunan bersejarah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, tahun 1996 atau setahun sebelum pemilu, Soeharto gerah karena kekuatan PDI tidak juga surut. Maka disusun skenario dengan memecah PDI dengan mengakui PDI yang diketuai Suryadi. Sementara PDI dengan ketua Megawati dianggap tidak sah.
"Titik puncaknya, serangan ke markas PDI ini. Waktu itu SBY Kasdam, Pangdam Sutiyoso. Kasdam yang melakukan rapat, merekut preman dari pasar induk dan menyerbu tempat ini," tandas Muktar.
Menurut saksi sejarah yang lain, Ridwan Saidi, pasca penyerbuan PDI gerakan perlawanan Orde Baru semakin menguat dan berakhir dengan lengsernya Soeharto 21 Mei 1998.
"Jadi bukan karena Amien Rais. Tetapi karena rakyat yang melawan," tukas Ridwan di tempat sama.
(Ari/rdf)











































