“Tidak hanya belanja yang bocor, tapi penerimaan juga bocor, ada Gayus besar dan Gayus kecil. Kebocoran di penerimaan 25 persen, di belanja 30 persen,” ujar Anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra, Sabar Subagyo.
Hal tersebut ia sampaikan dalam jumpa pers bertajuk 'Postur APBN, Cermin Negara Salah Urus' di Rumah Makan Pulau Dua, Selasa (26/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Anggaran ini diketok (diputuskan) Oktober, November mestinya mereka sudah bisa belanja. Tapi ternyata mereka belum buat rencana. Bagaimana mau menyerap anggaran kalau belum buat rencana,” terangnya.
Kritik juga dilontarkan Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra, Hasyim Djojohadikusumo. Menurut Hasyim banyak anggaran yang tidak efisien digunakan baik oleh DPR ataupun pemerintah.
“Anggaran vakansi, perjalanan pegawai negeri dan anggota DPR sebesar Rp 21 triliun. Untuk perjalanan pejabat negara kita setiap tahun. Ini angka yang sangat fantastis dan tidak efektif. Ini hanya banyak dipakai untuk perjalanan studi banding ke sejumlah negara yang tidak jelas hasilnya,” jelas adik Prabowo Subianto ini.
Atas temuan ini, Gerindra pun sepakat dengan wacana pembentukan Panja Mafia Anggaran.
“Mafia Anggaran harus diberantas. Kebocoran dan pemborosan anggaran harus dihentikan,” kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon di tempat yang sama.
(adi/gun)











































