Puluhan Ribu Warga Irlandia Demo Protes Kebijakan AS
Sabtu, 26 Jun 2004 14:11 WIB
Jakarta -
Ribuan orang bergerak menuju pusat kota Dublin untuk memprotes kebijakan Amerika di Irak, saat Presiden Amerika George W. Bush tiba di Irlandia Barat untuk pertemuan dengan para pemimpin Uni Eropa. Demonstrasi ini dikoordinir oleh partai-partai politik sayap kiri dan kelompok-kelompok penekan. Demikian dilansir ABC News Online, Sabtu (26/6/2004).Para demonstran mendengarkan pidato-pidato sebelum berangkat menuju Merrion Square di Parlemen Irlandia, yang di bawah pengamanan ketat kepolisian. Polisi menyatakan, jumlah demonstran sebanyak 10.000 orang, tapi tim pelaksana aksi mengatakan demonstran antara 30.000 sampai dengan 40.000 orang. "Ini adalah sebuah gerakan yang luar biasa. Kita tahu ini akan menjadi besar," ujar Richard Boyd Barrett, aktivis pergerakan Irlandia. Irlandia telah mencatat sebuah sejarah operasi keamanan terbesar dalam melindungi jalannya pertemuan internasional dari serangan teroris atau gangguan demonstran. Sekitar 6.000 polisi dan tentara ditempatkan dekat dengan kastil, sedangkan sepanjang kastil diberi penjagaan dengan tank-tank dan tentara-tentara yang dipersenjatai."Saya di sini untuk menunjukkan sikap oposisi saya terhadap kebijakan luar negeri AS - khususnya mengenai kebijakan perang di Irak, tapi tidak hanya itu saja, kami juga menentang aksi penyiksaan terhadap para tawanan perang," ujar Justin Moran, salah seorang demonstran. Beberapa demonstran menuduh Bush menggunakan Irlandia sebagai alat propaganda untuk mengumpulkan suara dalam pemilihan presiden. "Dengan kebodohannya dia mencoba mendapatkan suara dari orang-orang Irlandia keturunan Amerika. Tapi dia benar-benar tidak mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang Irlandia kepadanya," ujar Lorraine Hughes, seorang penulis dan musisi. "Dia adalah seorang yang sangat memalukan negaranya dan saya berharap warga negara Amerika melihat bagaimana tidak diterimanya Bush disini, dan berharap tidak memilihnya kembali sebagai presiden," lanjutnya.Dari pernyataan yang dikeluarkan para demonstran, banyak juga yang menyerang pemerintahan Irlandia, khususnya Perdana Menteri Bertie Ahern. Mereka menganggap Bertie Ahern telah merusak kebijakan tradisional Irlandia mengenai kenetralan, dengan memperbolehkan pasukan AS mempergunakan Bandara Shannon sebagai tempat transit sebelum ke Irak.
(nrl/)










































