Pertemuan kedua negara Semenanjung Korea diwakili oleh Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kim Sung-hwan dan Menteri Luar Negeri Korea Utara Pak Ui-chun. Mereka bertemu dalam suasana informal dan bersahabat.
“Sudah bertemu. Pertemuan tingkat menteri luar negeri. Pertemuan tadi malam dan tadi pagi. Pertemuan informal dan tambah sangat informal,” kata Ketua ASEAN Marty Natalegawa pada jumpa pers usai penutupan ARF ke-18 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Sabtu 923/7/2011).
Pertemuan tersebut belum sepenuhnya memulihkan ketegangan kedua Negara. Namun, ditengah ketegangan, pertemuan kedua menlu tersebut membawa dampak positif.
“Tidak bisa sekali pertemuan. Bisa bertemu pun dengan situasi di Semenanjung Korea menjadi perkembangan penting,” katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia, sebagai tuan rumah ASEAN berperan dalam pertemuan kedua negara untuk pertama kalinya sejak membeku selama sekitar dua tahun lalu.
“Indonesia bersedia berperan dengan cara terukur. Indonesia punya tali persahabatan erat dengan Korea Selatan dan Korea Utara. Itu aset kita yang cukup efektif. Pendekatan informal, sebagai wujud konstribusi kita di Korea,” kata Marty.
ASEAN Regional Forum di Bali juga berhasil memberikan dampak positif bagi beberapa konflik, diantaranya konflik Laut Cina Selatan dan konflik perbatasan Kamboja dan Thailand.
Pada konflik Laut Cina Selatan, telah terdapat kesepakatan antara negara-negara ASEAN dan ASEAN dengan Cina. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton memuji kesepakatan yang dicapai ASEAN dan Cina untuk menyelesaikan sengketa wilayah di Laut Cina Selatan.
“Semua menyambut baik dicapainya panduan ini. Pada saat yang sama, menjadi pekerjaan berat karena . panduan itu harus diwujudkan,” kata Marty.
Sedangkan, dua negara anggota ASEAN yang bersengketa Thailand dan Kamboja bersepakat untuk mematuhi keputusan Mahkamah Internasional. Mahkamah Internasional meminta keduanya menarik pasukan dari wilayah sengketa kompleks Kuil Preah Vihear.
Pertemuan ARF ke-18 pun telah berakhir. “ARF di Bali mampu mewujudkan dan menciptakan kondisi yang memungkinkan tercapainya perdamaian,” ujar Marty.
(gds/mad)










































