"Saya akui, PKB lahir dari rahim NU. Namun, jangan sampai masalah partai apalagi politik membawa-bawa nama NU. Terlebih, jika terjadi polemik, nama NU jangan dibawa-bawa. Karena hal ini untuk membedakan antara kepentingan umat dan partai," demikian wanti-wanti Ketum PBNU KH Said Agil Siradj.
Hal ini dikatakannya dalam Muscab III DPC PKB Kabupaten Lumajang yang digelar di Ponpes Miftahul Ulum, Desa Bayuputih Kidul, Kecamatan Jatiroto, Lumajang, Jumat (22/7/2011) siang. Said Agil turut hadir bersama Ketua DPP PKB Ansory dan sejumlah perwakilan dari DPW PKB Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NU ya NU, partai ya harus diurus partai sendiri. Saya minta jika terjadi konflik di partai yang berbasis NU, untuk tetap mengedepankan kebersamaan dan jangan sampai terpecah belah. Intinya, semua pihak untuk tetap bersatu demi kemajuan bersama," beber KH Said Agil Siradj.
Waspada Wahabi
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PBNU juga mengajak warga Nahdliyin di Kota Pisang ini untuk sama-sama mewaspadai aliran Wahabi yang mengajarkan kekerasan dengan menggunakan Islam. Indikasinya, masih kata KH Said Agil Siradj, aliran ini sudah merebak di Indonesia dengan munculnya 12 yayasan yang beraliran Wahabi dengan menurutnya mendapatkan aliran dana dari Arab Saudi.
Ketua PBNU menegaskan, warga Nahdliyin diharapkan untuk melawan dengan aliran yang mengajarkan kekerasan ini agar tidak menganggu ketertiban beragama di Indonesia.
"Saya yakin, semua pihak akan menentang munculnya aliran kekerasan. Partai juga demikian. Untuk itu, saya berharap Muscab PKB ini juga muncul rekonsiliasi untuk menentang ajaran kekerasan dan radikalisme pada masyarakat Indonesia," pungkasnya.
KH Said Agil Siradj di hadapan semua undangan mengungkapkan, aliran kekerasan berpaham Wahabi dari 12 yayasan ini muncul di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera dan Sulawesi. Di Jember muncul melalui Yayasan Al-Faruq, dan di Surabaya melalui Yayasan Al-Fitro.
Mereka melegalkan aksi kekerasan atas nama Islam. Padahal, aksi kekerasan itu tidak sesuai dengan budaya Islam Indonesia yang secara kultur sangat humanis dengan mengedepankan sisi kemanusiaan, kedamaian dan kerukunan antar umat beragama.
"Jika muncul di sini (Lumajang-red), sebaiknya warga Nahdliyin mengusir saja agar tidak mencederai kerukunan antar umat beragama," beber KH Said Agil Siradj.
(bdh/fay)











































